Kisah Passompe' dari SempangngE

Dari Pa'balu' Lipa' Sabbe ke Pangempang Muara, dari SempangngE ke Mangkupalas
 
Potret Transformasi geografis dan sosiologis lelaki bugis
Oleh: Wijanna LaNori

Orang sekitar akrab memanggilnya La Caba’, lelaki 35 tahun asal SempangngE, Wajo. Nama lengkapnya Baharuddin Ompeng, beristrikan Nurdiana, wanita Bugis kelahiran Samarinda dan memiliki anak angkat/keponakan bernama Wahyu, 6tahun. Di usianya yang tergolong muda itu, orang awam akan menaksir usianya 10tahun lebih tua. Perawakannya kecil agak membungkuk, rambut gondrong jauh dari kesan rapi, berkulit gelap mengkilap seakan terbakar, buah dari hasil mangempangnya di Muara Badak selama lebih kurang 5 tahun. La Caba’ tergolong gesit dan tangkas, murah senyum dan senang bercanda dengan orang lain. Dulunya dia adalah seorang pabbalu lipa’ yang merantau dari kampung ke kampung di luar pulau Sulawesi. Sempat menginjak tanah Sumatera, Kalimantan bahkan Kupang untuk berjualan lipa sabbe hasil tenunan Sengkang, tepatnya daerah SempangngE, tempatnya dilahirkan. Namun kini, dia adalah petani petambak, atau dalam bahasa lokalnya, pangempang. Dari hasil mangempangnya yang seluas 7 hektar itu, dia dapat membeli sebidang tanah rawa di Mangkupalas, Samarinda Seberang dan membangun sendiri, sebuah rumah kayu panggung diatasnya.

Di penghujung tahun 1980an, selepas SMA di SempangngE, La Caba’ turut beserta pemuda-pemuda sekampungnya massompe (merantau) ke luar Sulawesi, dengan menjadi pabbalu lipa’ sabbe, pedagang sarung Sutera (lipa sabbe’) berkeliling Indonesia. Umumnya, daerah yang dituju adalah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, atau Papua. Namun ada juga yang berjualan lipa sabbe di pulau Sulawesi juga, dari Makassar, Takalar, sinjai, luwu, Palu, Banggai, sampai ke Gorontalo. Beberapa dari mereka sempat juga menjejakkan kakinya di daratan Jawa, namun tidak banyak, mungkin dikarenakan keberadaan Sarung Pekalongan atau kain batik yang juga mendominasi waktu itu. Disetiap kota, biasanya para pabbalu lipa’ ini menyewa sepeda motor utnuk membantu mobilitas mereka untuk menjajakan lipa sabbe nya dari kampung ke kampung. Di dekade sebelumnya, para pabbalu lipa ini hanya berjalan kaki dari kampung ke kampung, kadang pekerjaan ini mengundang resiko tinggi, bahkan nyawa mereka. La Caba’ bertutur, dulu di tahun 1960-an, La Tellong bin Ompeng - kakak lelakinya lain ibu, dirampok dan dibunuh bersama rombongannya ketika mabbalu lipa’ di pedalaman Barru atau Sinjai, kuburannya tidak diketahui sampai sekarang.

Motivasi para pemuda SempangngE massompe umumnya selain karena alasan ekonomi, juga didorong oleh semcam budaya atau persepsi yang turun temunrun bahwa lelaki bugis dikatakan sukses apabila sudah pernah massompe, mengadu nasib di negeri orang. Banyak cerita sukses dibalik budaya massompe’ ini, namun tidak sedikit juga yang kembali dengan tidak membanggakan, bahkan tidak jarang hanya nama saja yang kembali alias meninggal di tanah sompe’ (tanah rantau). Beberapa diantara mereka pulang setelah 1-3 tahun, namun ada juga yang memilih untuk tidak kembali, terlebih karena penghidupan di sompe’, negeri orang, lebih baik ketimbang kembali ke negeri sendiri. Seorang sepupu Caba’, La Taming, memilih bermukim di Malaysia sejak 30 tahun lalu, dan sampai hari ini juga tak pernah mengirim berita. Para pabbalu lipa’ umumnya lebih sering kembali ke kampung, terlebih setelah dagangan lipa sabbe’nya habis setelah beberapa bulan, untuk kemudian berangkat lagi dengan membawa lipa’ sabbe baru. Profit margin dari berjualan lipa sabbe ini umumnya cukup tinggi, bisa sampai 10kali lipat harga pokok lipa sabbe’. Lipa sabbe ini dibungkus dalam beberapa bungkus kain lipa juga, tiap bungkusnya berjumlah paling sedikit 10 kodi (1kodi=20sarung), beratnya bisa mencapai ratusan kilo. Bisanya lipa sabbe ini diambil dari seorang ’boss’ yang bertindak menjadi ’sponsor’ dan distributor. Setiap pabbalu lipa mengantongi sejumlah uang dari sang Boss untuk biaya perjalanan dan akomodasi selama mabbalu’ lipa’. Namun, ada juga pabbalu lipa yang berangkat dengan swadaya dari hasil tenunan istri atau perempuan keluarga di rumah. Wanita bugis, sejak berusia baligh, umumnya sudah mahir memainkan alat tenun yang biasa di tempatkan di bawah rumah panggungnya. Satu lipa sabbe nya bisa diselesaikan dalam 3hari sampai 1 minggu, tegantung tingkat kesulitan corak dan bahannya. Mereka kadang meracik sendiri cello’nya (warna), sehingga awam didapati jemari tangan wanita Bugis ini berwarna merah kebiruan hasil meracik wennang cello (warna benang)tenunannya.

Kembali ke cerita La Caba’, setelah berdagang lipa sabbe bersama kakak lelakinya La Sawang selama lebih kurang 10 tahun, akhirnya di awal tahun 2000an, dia singgah di Samarinda Seberang, di area Mangkupalas, daerah yang dia sebut sebagai ”ogi Mammesseng’ atau bugis semua, berkenalan dengan beberapa orang Bugis disana, kemudian memperistri salah seorang putri juragan Empang setempat, Haji Haddise. Kemudian dimulailah transformasi kehidupannya, berbekal tabungan hasil mabbalu lipa sabbe urunan bersama kakaknya La Sawang, dia membeli empang seluas 7 hektar milik mertuanya di kawasan Muara Badak, atau lebih sering disebut Muara saja. Kakaknya sendiri, La Sawang, karena keterbatasan fisik, lebih memilih menjadi seorang penarik Ojek Motor di daerah Loa Janan, Samarinda Seberang juga, sekitar 5km dari Mangkupalas.

Ditemani oleh adik lelakinya, La Saha yang dibawanya dari kampung SempangngE, dia menggarap dan mengolah empang ini untuk menghasilkan udang windu dan kepiting untuk kemudian dijual ke tengkulak setempat. Tengkulak, atau dia lebih senang memanggilnya sebagai ’Boss’, umumnya lebih berfungsi sebagai Godfather bagi para pangempang asuhannya, mulai dari membantu biaya ’pengolahan’ empang dari berwujud rawa menjadi empang yang produktif, sampai ke bantuan biaya mendirikan rumah para pangempang. Namun, sesuai perjanjian awal diantara keduanya, hasil empang ini berupa udang atau kepiting harus dijual ke ’Boss’ ini. Harga yang dipatok lumayan tinggi, untuk Udang Windu kualitas ekspor yang rata-rata sebesar telapak tangan laki-laki dewasa, dihargai Rp 150,000/kilogram. ”Tapi, kalo udangnya ada cacatnya, misalnya sisiknya kurang bagus, maka tidak akan diterima oleh Boss, karena tidak bisa diekspor”, katanya, ”harga udang yang ’cacat’ akan jatuh ke kisaran Rp 15,000/kg saja, nah ini yang biasanya dijual di pasar lokal saja”. Para pangempang ini hanya memproduksi udang dan kepiting, karena nilai jualnya yang tinggi karena berorientasi ekspor. Untuk jenis ikan bolu/bandeng atau ikan lainnya, mereka tidak begitu bersemangat, karena umumnya hanya untuk konsumsi lokal dengan harga maksimal Rp 15,000/kg.
Untuk perjalanan ke Muara, La Caba menggunakan speed boat dari kayu yang juga dibelinya atas jasa baik “Boss’nya. Perjalanan ke Muara ini ditempuh dalam waktu 3 jam dengan menyusuri sungai Mahakam. Jadwal mangempang di Muara ini biasanya selang seminggu-seminggu, artinya seminggu di Muara, seminggu balik ke Mangkupalas. Kadang-kadang kalau musim panen udang, dia bisa tahan sampai 2 minggu di Muara. Dalam setahun, La Caba bisa panen 3kali, setiap panen bisa menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp. 30juta. Duit inilah yang ipakainya untuk membeli investasi tanah dan membangun rumahnya di Mangkupalas. Juga, sekiranya perlu, dia mengirimkan duit hasil empang ini ke kakak-kakaknya yang masih bermukim di SempangngE.

Bulan mei kemaren, La Saha, adiknya menikah dengan gadis bugis setempat, dan kemudian memutuskan untuk kembali ke Sempangnge beserta istrinya, tidak menjadi pangempang mengikuti kakaknya. Kini, La Caba, ditemani istri tercintanya mengurus empang berdua. Kelihatannya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya menjadi pangempang di Muara, tidak berniat kembali lagi ke SempangngE, Wajo.