Perahu Bugis

Bulukumba: Suatu hari seorang pilolog Bugis, Doktor Nurhayati Rahman, membuka lemari perpustakaan dan meraih sebuah buku sastra kuno Bugis La Galigo. Ia membaca sejumlah bait tradisi lisan mengenai filosofis perahu bagi orang Bugis: "Apabila engkau menemui kesulitan di tengah laut, maka palingkanlah perahu ke sebelah kanan tujuh kali. Kalau itu pun tidak diberi jalan, palingkanlah perahumu ke sebelah kiri tujuh kali. Kalau itu pun tidak diberi jalan, barulah engkau menempuh kesulitan.

Uraian bermakna dalam itu mengiringi perjalanan sebuah perahu yang tengah melaju di tengah samudra. Perahu dan laut memang merupakan bagian terbesar bagi filosofi, perilaku hidup, dan keseharian warga suku Bugis dan suku-suku di Pulau Sulawesi. Mereka bukan hanya dikenal sebagai pelaut yang tangguh atau nelayan yang terampil. Tapi, juga sebagai pembuat perahu kayu yang handal. Dan tentu saja dengan teknologi tradisionalnya. Kesimpulan itu bukan hanya tercatat dalam naskah kuno La Galigo, tapi juga dalam bukti nyata yang diperlihatkan para pembuat perahu di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Di pesisir Desa Tana Beru, Bulukumba, Haji Muslim Baso dikenal sebagai pembuat perahu yang handal. Suatu pagi ia bersama punggawa dan para sahi-nya bersiap-siap meluncurkan sebuah perahu mesin ke tengah laut. Perahu milik Badan Perlindungan Satwa Dunia atau WWF itu memang hasil kerjanya selama dua bulan terakhir. Dan sekarang sang "bayi" bersiap-siap dihadirkan ke alam dunia.

Seorang bayi bakal lahir ke muka bumi. Dan Haji Muslim Baso adalah "ibu" sang bayi merah yang tengah bersiap-siap memulai kehidupan baru di alam fana itu. Bagi warga suku Bugis, pembuat perahu bisa diibaratkan seorang ibu dengan perahu sebagai bayinya. Karena di antara keduanya bukan hanya terikat dalam hubungan pembuat dan sebuah benda mati. Namun jauh di dalam juga terjalin sebuah ikatan batin nan kokoh. Laksana ibu dan sang jabang bayi.

Lantaran itulah, ketika para sahi bekerja keras melepaskan perahu ke tengah laut, Haji Muslim baso juga merasakan paduan sukacita dan rasa haru seperti seorang ibu yang tengah melahirkan. Dia adalah seorang di antara pembuat perahu ternama di Desa Tana Beru, Bulukumba, Sulsel. Ia perancang dan pengawas setiap pembuatan sebuah perahu atau punggawa. Sedangkan pelaksana rancangannya adalah para sahi atau tukangnya.

Laut dan perahu adalah kehidupan suku Bugis dan suku-suku laut di Celebes, nama lama Sulawesi. Karena filosofi, perilaku dan cara berpikir mereka umumnya senantiasa dikaitkan dengan laut dan perahu. Keterkaitan itu begitu nyata dalam paparan naskah kuno Bugis La Galigo. Persisnya saat mengurai kisah perjalanan Sawerigading ke Negeri Tiongkok atau Cina dengan sebuah perahu besar. Dalam naskah kuno itu digambarkan pula, seolah perahu besar memboyong manusia dan tetumbuhan.

Boleh dikatakan, warga suku Bugis memiliki teknik tersendiri dalam membuat perahu. Ritual merupakan langkah pertama sebelum dilakukan penebangan pohon untuk membuat lunas perahu atau kalabiseang. Setelah itu barulah para sahi meraih alat kerjanya dan menghaluskan lunas perahu di galangan kapal yang disebut bantilang.

Usai lunas perahu atau kalabiseang dihaluskan, para sahi pun memasang dua penopang lumbung perahu di ujung dan ekor perahu yang disebut sotting. Selanjutnya lambung perahu atau kulit perahu dipasang, membentuk sebuah perahu. Inilah perbedaan pembuatan perahu Bugis dibandingkan perahu modern. Ini karena perahu Bugis dibuat dengan terlebih dahulu membuat lambungnya, setelah itu baru rangkanya. Itu jelas berbeda dengan pembuatan perahu modern yang dibikin terlebih dahulu rangkanya dan baru lambungnya.

Bagi Haji Muslim Baso, teknik tradisionalnya memberikan keuntungan dalam penggunaan bahan baku. Sebab, kulit perahu bisa dibentuk sesuai rancangan tanpa banyak membuang kayu. Dan jauh sebelum para sahi bekerja, Haji Muslim Baso sebagai punggawa akan merancang dan memperhitungkan rencana produksi.

Nah, berdasarkan hitungan itulah, ia dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku, lama pekerjaan/ jumlah sahi dan biaya produksi. Hasil hitungan tersebut kemudian dijadikan patokan harga dan diajukan ke pelanggan yang oleh warga setempat disebut sambalu.

Perahu Bugis memiliki catatan panjang dalam kehidupan suku-suku di Pulau Sulawesi. Sejumlah arkeolog mencatat, industri tradisionalnya telah dimulai sejak masa pemerintahan Kerajaan Gowa atau ratusan tahun lampau. Dan bila membuka kembali halaman-halaman lontar naskah kuno La Galigo, masa itu berada pada sekitar abad VII atau setidaknya abad XII Masehi.

Adapun suku Bugis dari Desa Ara di wilayah Bulukumba, kerap disebut juga orang Ara tercatat sebagai pembuat-pembuat perahu Bugis yang terampil. Mereka bukan hanya membuat perahu untuk kebutuhan mencari ikan atau bernelayan, tapi juga untuk alat transportasi. Bahkan, perahu besar untuk berniaga, seperti yang dilakoni Sawerigading dahulu kala.

Lantaran itulah, perahu Bugis memiliki banyak ragam dan ukuran. Dari yang berukuran besar hingga kecil. Uniknya, perahu-perahu itu memiliki nama tersendiri, semacam Pajjala, Banggo atau Sandek. Belakangan, jenis phinisi lebih disebut-sebut sebagai perahu khasnya suku Bugis.

Di luar catatan sejarah dan pesan filosofis, warga suku bugis dan juga suku-suku lain di Pulau Sulawesi dikenal dekat dengan mitos. Bahkan, keterampilan membuat perahu warga di wilayah Bulukumba ini pun kerap dihubungkan dengan mitos.

Sahibul hikayat, ketika perahu milik Sawerigading hancur di perairan Tanjung Bira, Bulukumba, layarnya terdampar di Pulau Bira. Sedangkan serpihan lambung perahunya terdampar di Desa Ara. Pada akhirnya, Tanjung Bira menjadi tempat lahirnya pelaut-pelaut yang tangguh. Dan hingga saat ini, pelaut-pelaut dari Tanjung Bira telah menyebar hampir ke seluruh Nusantara. Sementara Desa Ara menjadi kampung kelahiran para pembuat perahu yang terampil.

Terbukti hingga sekarang di sepanjang pesisir Tana Beru, Bulukumba, masih diramaikan oleh berbagai kegiatan pembuatan perahu. Mereka melayani pemesanan bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Haji Muslim Baso sebenarnya berasal dari Desa Ara. Namun, selama dua puluh tahun terakhir, ia justru bermukim di Desa Tana Beru. Di sana, ia belajar membuat perahu semenjak usia 16 tahun. Dan pada usia 21 tahun, ia telah mampu menjadi punggawa sebuah pembuatan perahu. Tak aneh, bila saat ini ia tidak tahu lagi jumlah pasti perahu yang telah diselesaikannya.

Yang terang, ia telah banyak membuat perahu untuk orang asing. Alhasil perahu Bugis pun telah menyebar ke mancanegara sebagai perahu pengangkut barang atau perahu wisata. Begitu pula saat ini. Perahu motor yang tengah dilarungkan ke laut itu pun pesanan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing. Ia dan para sahinya membuat perahu tersebut sejak enam bulan silam.

Kisah kebesaran suku Bugis dengan pelayaran Sawerigading dengan perahu Bugis seperti terpapar dalam naskah kuno La Galigo terbukti bukan cerita rekaan semata. Soalnya, siapa pun kini bisa melihat warisan keahlian dan keterampilan yang diturunkan oleh para leluhur suku Bugis itu di Tana Beru, Bulukumba.

Terlepas dari kebanggaan itu, warga suku Bugis justru membaca paparan dalam sastra kuno La Galigo. Terutama yang berkaitan dengan simbol laut perahu sebagai ajaran kehidupan. Persisnya seperti filosofi kehidupan suku Bugis.

Akhirnya "sang jabang bayi" lahir ke dunia, seraya disertai tarikan lega napas "ibunda". Ini berarti sebuah perahu Bugis telah berada di laut lepas. Maka tugas sang punggawa dan para sahinya berakhir. Perjuangan selama sekitar enam bulan disertai proses pelarungannya yang tiga hari itu seakan purna terbayar. Yakni dengan terapungnya perahu Bugis itu.

Maka, kisah tentang pembuat perahu Bugis ini berakhir dengan sukacita. Dan sekali lagi Haji Muslim Baso membuktikan dirinya sebagai salah seorang warga suku Bugis. Dan bukan hanya terampil membuat perahu tradisional, ia pun berhasil membuktikan kebesaran nenek moyangnya yang memiliki sejarah panjang di samudra luas.


Kredit kepada
http://smansa-sinjai.blogspot.com