Berjasakah Tun Datu Musthapa Datu Harun Kepada Silat Gayong???


Dalam keseronokan menelusuri sejarah Bugis di kepulauan Nusantara terutamanya perwatakan yang ada dalam masyarakat melayu nusantara, penulis sempat menelusuri salah satu cabang budaya bangsa iaitu seni silat.


Tak dinafikan bahwa apabila kita berbicara tentang persilatan melayu nusantara adalah mustahil untuk melepaskan sejarah penubuhan Persatuan Seni Silat Gayong yang diasaskan oleh Dato' Meor Abdul Rahman.

Berdasarkan catitan sejarah kronologi Dato Meor Abdul Rahman, beliau adalah berketurunan Daeng Kuning dan berayahkan Daeng Uda Hashim.

Berdasarkan kronologi itu juga disebutkan bahwa Dato' Mahaguru telah melawat Sabah pada tahun 1974. Semasa lawatan tersebut beliau telah berjumpa dengan Tun Datu Mustapha Datu Harun yang ketika itu adalah Ketua Menteri Sabah. Tun Mustapha telah dilantik oleh Dato' Mahaguru sebagai Imam Khalifah Seni Silat Gayong Bagi Negara-Negara Islam.

Sementara itu pada Mac 1975, beliau telah melawat Tun Abdul Razak berbangsa Bugis yang ketika itu adalah Perdana Menteri Malaysia dan melantiknya sebagai Timbalan Imam Silat Seni Gayong Malaysia dan Serantaunya.

Berdasarkan kronologi ini secara sekilas dapat disimpulkan bahwa penghormatan Mahaguru Dato' Meor tertinggi diberikan kepada Tun Datu Mustapha (Ketua Menteri Sabah) berbanding Tun Abdul Razak (Perdana Menteri Malaysia).

Keturunan Daeng Paroni (Daeng Perani) Gembira Dengan Pengesahan Kubur Pahlawan

SUNGAI PETANI, 24 Jun (Bernama) -- Keluarga keturunan pahlawan Bugis terkenal Daeng Paroni yang menetap di Kampung Ekor Lubuk, Sidam Kiri di sini gembira dengan pengesahan Persatuan Sejarah Malaysia Cawangan Negeri Kedah mengiktiraf sebuah kubur lama di kampung Ekor Lubuk, sebagai makam pahlawan yang meninggal 282 tahun lepas.

Setiausaha Persatuan Warisan Keturunan Daeng Paroni, Roshazliza Abdul Razak berkata Persatuan Sejarah Malaysia Cawangan Negeri Kedah mengesahkan kubur lama di kampung Ekor Lubuk sebagai kubur Daeng Paroni pada Selasa lepas setelah keturunan pahlawan itu mengambil inisiatif mengesan kubur Daeng Paroni.

"Selepas warisnya berjaya mengesan perkuburan Daeng Paroni dan sekarang ia diiktiraf sebagai kubur beliau, kami sebagai keturunannya sangat gembira," katanya di sini hari ini.

Anggota keluarga keturunan pahlawan Bugis turut menetap di beberapa daerah lain di Kedah dan Perak.

Pahlawan Bugis Yg Mangkat Di Kedah (Bahagian II)

Daeng Perani Mangkat Di kedah

Dalam buku Tuhfat Al-Nafis, Salasilah Melayu & Bugis, dan Hikayat Siak dengan jelas menyatakan yang Opu Daeng Perani telah gugur di Kedah dalam pertempuran dengan Raja Kechil Siak. Dalam Tuhfat Al-Nafis mencatatkan:

Syahadan maka berapa antaranya maka kelengkapan Yang Dipertuan Muda [Opu Daeng Merewah] serta Opu-Opu itu mudik hendak melanggar Kubu Raja Kechil sebelah hulunya pada rumahnya dan apabila sampai ke kota hulu itu maka lalulah berperang yang sangat ramainya dengan gegak gempita berbedil-bedilan dengan meriam dan rentak serta tempik soraknya maka dengan takdir Allah Subhanahu Wa Taala sert adengan sudah sampai janjiNya maka Opu Daeng Perani pun kenalah pelurunya meriam tentang dadanya maka iapun mangkat di atas beranda hgurabnya dengan nama laki kerana waktu ia berperang besar itu bersiar-siar di atas beranda memerintahkan segala orang berperang itu .......

Seterusnya sumber ini mengatakan apabila Raja Kechil dikalahkan dan berundur ke Siak, “……Yang Dipertuan Muda serta Raja Tua, Daeng Menambun……dimakamkan mayat Opu Daeng Perani itu betapa adapt istiadat raja-raja mangkat……

Pahlawan Bugis Yg Mangkat Di Kedah (Bahagian I)

Asal usul Daeng Perani

Mengikut Catatan Raja Ali Haji dalam bukunya Salasilah Melayu dan Bugis serta Tuhfat Al-Nafis, Putera Bugis lima bersaudara ini adalah dari keturunan Opu Tendriburang Daeng Rilaga iaitu putera La Maddusalat, seorang Raja Bugis di negeri Luwuk. Opu Tendriburang Daeng Rilaga mempunyai lima orang anak iaitu Daeng Perani, Daeng Chelak, Daeng Marewah, Daeng Menambun & Daeng Kemasi.

Opu Daeng Rilaga bersama anak-anaknya keluar dari Luwuk setelah ayahandanya Opu La Maddusalat mangkat. Beliau memulakan perjalanan ke negeri To Pammana. Di sini beliau disambut meriah oleh pemerintah To Pammana. Beliau Kemudian ke Bone dan seterusnya ke Betawi bertemu dengan saudaranya Opu Daeng Biasa. Selepas pertemuan itu, beliau berangkat ke Siantan. Ketika di Siantan, Opu Daeng Perani telah berkahwin dengan anak Nakhoda Alang, keturunan Makasar. Dari Siantan Opu Daeng Rilaga bersama anak-anaknya mengambara ke Johor dan Melaka serta Kemboja. Setelah beberapa lama tinggal di Kemboja, Opu Daeng Rilaga dan anak-anaknya kembali ke Siantan. Apabila mereka sampai di Siantan, isteri Opu daeng Perani telah selamat melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama Daeng Kemboja sempena kepulangannya dari negeri kemboja.



Hubungan Aceh Dengan Bugis Dalam Catatan Sejarah

Oleh: Irini Dewi Wanti, SS, MSP.

I. Pendahuluan
Berbicara tentang hubungan antara Aceh dengan Bugis tidak lepas dari membicarakan jalur perdagangan di Nusantara pada awal abad 15. Sejak zaman kuno pelayaran dan perdagangan dari Barat dan negeri Cina memerlukan pelabuhan tempat persinggahan untuk tempat mengambil bekal dan menumpuk barang. Selama beberapa abad fungsi emporium tersebut dijalankan oleh kerajaan Sriwijaya. Merosotnya kerajaan Sriwijaya pada akhir abad XIII menyebabkan fungsi itu terpencar ke beberapa daerah di Nusantara antara lain di Pidie dan Samudera Pasai.[1] Namun, pada abad 15 Malaka berkembang menjadi pusat perdagangan yang paling ramai hingga Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Hal ini berdampak kemunduran sedikit demi sedikit pada pusat perdagangan. Kemunduran Malaka memunculkan Aceh sebagai pusat perdagangan yang disinggahi oleh para pedagang muslim yang tidak mau berhubungan dengan Portugis.

Penyelenggaraan perkapalan dan perdagangan di kota-kota pelabuhan menimbulkan jalur komunikasi terbuka, sehingga terjadi mobilitas sosial baik horizontal maupun vertikal, serta perubahan gaya hidup dan nilai-nilai. Penyebaran agama Islam yang dibawa oleh kaum pedagang, perkawinan antar suku tidak terlepas dari adanya jalur perdagangan internasional pada masa lalu.

Diaspora Bugis-Makassar (05): KALOLA, KAMPUANG ASAL PARA PENGEMBARA

Oleh Kenedi Nurhan

TIDAK ada yang istimewa dari tampilan fisik Desa Kalola. Sebagian besar rumah panggung yang ada masih berupa bangunan lama, yang juga tidak istimewa. Baik bahan dasar bangunan maupun arsitekturnya tergolong biasa-biasa saja.

Dibandingkan desa-desa tetangganya di Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, sepintas terlihat betapa kemajuan fisik Kalola masih tertinggal. Meski di seberang jalan negara yang menghubungkan Pare-Pare ke arah ibu kota Wajo di Sengkang hingga Watampone di Kabupaten Bone terbentang luas sawah menghijau, namun tak terlihat tanda-tanda kemakmuran menjamah mereka.

Inikah potret salah satu kampung asal para pengembara Bugis yang terkenal hingga ke seberang lautan itu? Waktu yang berlari cepat ternyata tak membuka cukup ruang untuk mengubah suatu peradaban, sehingga kehidupan pun seperti jalan di tempat.

Di sinilah, 28 tahun lalu, Cik Hasan Bisri—dosen Fakultas Syariah, IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, yang kala itu tengah mengikuti pendidikan di Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (PLPIIS) Makassar—mencatat tingginya angka migrasi dari desa ini. Akibatnya, kampung-kampung di lingkup Desa Kalola kehilangan banyak penduduk. Sawah-sawah pun telantar karena ditinggal pergi para pemiliknya.

Diaspora Bugis-Makassar (04): DI TANAH JAWA MEREKA IKUT BERJUANG

Oleh Kenedi Nurhan dan Mukhlis PaEni

MENGETAHUI ada darah Bugis-Makassar mengalir dalam tubuh Wahidin Soedirohoesodo (1852-1917), Adin mengaku kaget bercampur bangga. Pada satu senja, di kompleks Pemakaman Mlati, Sleman, Yogyakarta, lelaki Bugis-Makassar yang menikahi perempuan asal Jepara ini pun bersimpuh di sisi makam pahlawan nasional penggagas kelahiran Budi Utomo tersebut.
Semula Adin—nama lengkapnya Suryadin Laoddang—tak percaya pada fakta baru yang ia terima. Bukankah dalam sejarah resmi yang ditulis selama ini disebutkan bahwa dokter Wahidin Soedirohoesodo adalah priyayi Jawa? Potret sang tokoh pun selalu ditampilkan dalam busana lelaki ningrat Jawa, lengkap dengan blankon di kepalanya.


Akan tetapi, melalui pendekatan genealogis diketahui bahwa tokoh pergerakan nasional tersebut ternyata masih keturunan Karaeng Daeng Naba. Bangsawan Bugis-Makassar ini mengembara ke Jawa setelah Kerajaan Gowa takluk pada Kompeni-Belanda tahun 1669. Di Jawa, Daeng Naba terlibat dalam intrik perebutan kekuasaan di pusar tanah Jawa (baca: Mataram), di mana Trunajaya tampil sebagai tokoh antagonisnya.


Atas jasa Daeng Naba yang ikut membantu Amangkurat II meredam pemberontakan Trunajaya (1670-1679), ia dinikahkan oleh sang penguasa Mataram dengan putri Tumenggung Sontoyodo II.

Diaspora Bugis-Makassar (03): MELAYU-BUGIS-MAKASSAR DAN ARUS BALIK SEJARAH

Oleh Kenedi Nurhan

SESUNGGUHNYA, kehadiran bangsawan Bugis-Makassar di Tanah Melayu tak ubahnya seperti fenomena arus balik sejarah. Jauh sebelum pengembara Bugis-Makassar masuk ke jantung kekuasaan Melayu, orang-orang Melayu-lah yang lebih dahulu berperan dalam dinamika lokal di negeri Bugis-Makassar.

Menyusul kejatuhan Melaka ke tangan Portugis pada 1511, di luar kerabat istana yang memindahkan pusat kekuasaan ke Johor, tidak yang pergi ke berbagai penjuru angin. Beberapa kelompok berkelana hingga ke Sulawesi. Di wilayah Kerajaan Gowa ini mereka bermukim di Salojo, daerah pesisir Makassar di perkampungan Sanrobone.

Hasil penelusuran Mukhlis PaEni, sejarawan-antropolog sosial dari Universitas Hasanuddin, memperlihatkan bahwa sampai 1615 roda perekonomian—khususnya perdagangan antarpulau melalui pelabuhan Makassar—dikuasai oleh orang Melayu dari Johor dan Patani. Baru pada 1621 orang Bugis-Makassar ikut ambil bagian penting dalam dunia perdagangan dan pelayaran di Nusantara.

“Sejak kedatangan orang-orang Melayu di Kerajaan Gowa (Makassar), peranan mereka tidak hanya dalam perdagangan dan penyebaran agama (baca: Islam), tapi juga dalam kegiatan sosial-budaya, bahkan di birokrasi. Dalam struktur kekuasaan Kerajaan Gowa, banyak orang

Diaspora Bugis-Makassar (02): TERLIBAT INTRIK KEKUASAAN DI JANTUNG MELAYU

Oleh Kenedi Nurhan
SETELAH beberapa kali salah jalan, rombongan kecil itu akhirnya tiba juga di sebuah makam bercungkup di puncak tebing merah berbatu kerikil. Hanya sepelemparan batu dari sana, Sungai Bintan mengalir tenang. Di kejauhan, dari selasar makam berwarna kuning menyala itu, debur ombak Selat Melaka sayup terdengar.

Letak makam itu cukup terpencil, berada di antara semak dan kebun kelapa yang tak terurus. Memang tak mudah menemukannya. Bahkan, petugas Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Tanjung Pinang yang membawahkan wilayah ini pun tidak tahu persis jalan menuju makam ‘orang besar’ di masa Kesultanan Melayu (Riau-Johor) tersebut.

Tersesat beberapa kali, dan dua kali salah mendatangi ‘alamat’ makam yang dicari, hanyalah sisi lain dari gambaran awal betapa pendek ingatan sebagian anak negeri ini pada sejarah masa lalu bangsanya. Daeng Marewa (kadang-kadang juga ditulis dengan ‘h’: Daeng Marewah), nama yang tertera pada plakat makam dan papan nama penanda sekaligus peringatan bahwa kawasan ini adalah bagian dari benda cagar budaya, siapakah dia?

Bagi kebanyakan orang, termasuk mereka yang tinggal di Kepualauan Riau dan sekitarnya—juga Johor, Pahang, Selangor dan Kedah di wilayah Tanah Semenanjung, saat ini nama Daeng Marewa hampir tak lagi dikenal. Padahal, sejarah mencatat, Daeng Marewa adalah Yamtuan Muda alias Yang Dipertuan Muda Riau I. Jabatan setingkat perdana menteri itu ia sandang selama sekitar tujuh tahun (1721-1728), dan setelah ia mangkat posisinya digantikan sang adik, Daeng Celak (1728-1745).

Siapakah sesungguhnya Daeng Marewa—juga Daeng Celak—dan bagaimana mereka bisa duduk di tampuk tertinggi kekuasaan Kesultanan Melayu? Bukankah dari nama gelar (baca: daeng) yang mereka sandang, dengan gampang orang bisa mengaitkannya dengan kebangsawan Bugis-Makassar?

Memang, Daeng Marewa dan Daeng Celak adalah dua di antara lima bersaudara “satria” Bugis-Makassar, putra Opu Tenri Borong Daeng Rilakka. Tiga saudara mereka yang lain adalah Daeng Perani, Daeng Manambung, dan Daeng Kamase.

Lima bersaudara keturunan bangsawan-petualang Bugis-Makassar, meminjam istilah sejarawan Taufik Abdullah, inilah yang ikut berperan penting dalam mengangkat marwah Kesultanan Melayu (Riau-Johor) pada abad XVIII. Berkat mereka, Kesultanan Melayu (saat itu berpusat di Johor, sehingga sejarah pun mencatatnya sebagai Kesultanan Melayu-Johor) bisa diselamatkan dari kehancuran akibat pendudukan Raja Kecil dari Siak.
Ketika itu, Raja Kecil—yang mengklaim sebagai keturunan (alm) Sultan Mahmud Shah II—menuntut hak atas tahta di Johor. Dibantu orang-orang Minangkabau, pada Maret 1718, Raja Kecil berhasil menguasai istana Kesultanan Melayu-Johor, menyusul terbunuhnya Raja Muda Mahmud. Riau kepulauan dan sekitarnya pun, termasuk Lingga dan Bintan yang juga pernah jadi pusat kekuasaan Kesultanan Melayu, ikut dikuasai pasukan Raja Kecil.

Pihak kerabat Istana Johor yang melarikan diri ke Pahang lalu berpaling kepada pengembara Bugis-Makassar yang kala itu memang sudah dikenal sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan Selat Melaka. Pilihan jatuh pada kekuatan lima bersaudara yang dipimpin Daeng Perani berserta para pengikutnya. Johor pun jadi ajang persaingan kekuasaan antara orang-orang Minangkabau, Bugis-Makassar, dan Melayu.

Setelah melalui serangkaian pertempuran laut yang seru, orang-orang Bugis-Makassar berhasil menghalau kekuatan Raja Kecil. Istana Johor juga bisa direbut kembali. Sebagai kompensasi atas jasa-jasa mereka, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1721-1760) yang dilantik sebagai penguasa Johor menetapkan semacam kuasa bersama antara Melayu dan Bugis-Makassar atas kedaulatan Kesultanan Melayu-Johor.

Satu di antara lima bersaudara tersebut, Daeng Marewa, bahkan diberi kekuasaan khusus sebagai Yamtuan Muda alias Raja Muda di Riau. Adapun Daeng Perani—yang kelak jadi Raja Muda di Selangor—dan Daeng Celak kemudian dikawinkan dengan saudara-saudara Sultan Johor.

Setelah Daeng Marewa wafat pada 1728, Daeng Celak tampil sebagai Yang Dipertuan Muda Riau II (1728-1745), sebelum akhirnya ia digantikan Daeng Kamboja—anak Daeng perani—sebagai Yang Dipertuan Muda Riau III. Hingga Kesultanan Melayu-Riau dibubarkan oleh Belanda pada 3 Februari 1911, jabatan Yang Dipertuan Muda Riau selanjutnya dipegang oleh anak cucu Daeng Celak yang sudah merupakan keturunan Melayu-Bugis-Makassar.

Tidak seperti leluhur mereka yang asli Bugis-Makassar, anak-anak berdarah Melayu-Bugis-Makassar ini tak lagi menyandang gelar daeng sebagai ciri kebangsawan mereka, tetapi tampil dengan gelar kebangsawanan baru: “raja”! Raja Haji Fisabilillah sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV tercatat sebagai penguasa pertama dari garis keturunan Melayu-Bugis-Makassar.

Bagaimana “karier” Daeng Manambun dan Daeng Kamase? Tuhfat al-Nafis yang ditulis Raja Ali Haji—pada episode tentang sejarah dan silsilah Melayu-Bugis—menyebutkan, “Daeng Manambun menjadi raja di Mempawah (di Pulau Kalimantan—pen) bergelar Pangeran Emas Surya Negara... adapun Daeng Kamase berkuasa di negeri Sambas bergelar Pengeran Mangkubumi.”

Ekses Perjanjian Bongaya

Kehadiran para perantau-petualang Bugis-Makassar yang bisa masuk ke pusat kekuasaan Kesultanan Melayu (Riau-Johor) dan kerajaan-kerajaan lain di Tanah Melayu, tentu saja merupakan fenomena menarik.

Mereka ternyata tidak sekadar berperan dalam dinamika sosial-ekonomi melalui jalur pelayaran dan perdagangan. Pada banyak tempat—di Kesultanan Melayu (Johor-Riau) sebagai contoh kasus—orang-orang Bugis-Makassar bahkan terlibat dalam dinamika sosial politik hingga ke jantung kekuasaan setempat.

Sejak diterapkannya Perjanjian Bongaya (1667), menyusul kejatuhan Benteng Somba Opu sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Gowa-Tallo pada 24 Juni 1669, memang terjadi migrasi besar-besaran orang-orang Bugis-Makassar ke berbagai penjuru Nusantara. Pola pelayaran dan perdagangan orang-orang Bugis-Makassar pun, sebagaimana dicatat Christian Pelras (Manusia Bugis, 2006), mengalami perubahan.

Dimotori para bangsawan dan raja-raja kecil yang menentang isi perjanjian tersebut, yang secara umum mengekang kebebasan dan bahkan mempreteli eksistensi mereka, tujuan migrasi terutama ke wilayah barat Nusantara. Mereka menghindari wilayah timur—terutama ke Maluku sebagai daerah penghasil rempah-rempah—karena jalur pelayaran dan perdagangan ditutup oleh Belanda.

Selain Kalimantan, Sumbawa, Lombok, dan Jawa-Bali, rombongan para bangsawan Bugis-Makassar ini juga banyak menetap di Sumatera dan Tanah Semenanjung. Opu Tenri Borong Daeng Rilakka—bangsawan dari Kerajaan Luwu yang ketika itu merupakan daerah bawahan Gowa—bersama lima putra dan pengikutnya termasuk yang memilih bermigrasi ke daerah pesisir timur Pulau Sumatera.

Di kawasan Selat Melaka ini mereka bersama orang-orang Bugis-Makassar lainnya mendirikan perkampungan di pantai-pantai dan muara-muara sungai besar. Di Jambi, seperti daerah Muara Sabak dan Tanjung Jabung, selain berdagang, orang-orang Bugis-Makassar juga banyak yang membuka lahan perkebunan kelapa. Begitu pun di Kepulauan Riau dan Tanah Semenanjung.

Pada masa ini, Ricklefs (2006) meyakini, para pengembara Bugis-Makassar terlibat aktif di hampir seluruh bagian barat Nusantara dan menjadi kekuatan utama di Selat Melaka. Bahkan, seperti dicatat Pelras, dalam perkembangan berikutnya mereka juga melibatkan diri dalam perseteruan di kalangan penguasa Melayu.

“Melalui peperangan dan perkawinan mereka berhasil menjadi salah satu kekuatan politik utama, khususnya di Kesultanan (Melayu) Riau-Johor dan Tanah Melayu pada umumnya,” tulis Christian Pelras.

Tak hanya di Kesultanan Melayu (Riau-Johor) serta pusat kekuasaan kerajaan-kerajaan lain di Tanah Semenanjung dan Kalimantan Barat, di belahan utara Pulau Sumatera pun anak cucu pengembara Bugis-Makassar juga masuk ke jantung kekuasaan. Di Kesultanan Aceh, misalnya, selama hampir dua abad (1727-1838), Ricklefs mencatat ada enam orang Bugis-Makassar yang tampil sebagai penguasa kesultanan.

Versi Anthony Reid (Asal Usul Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad Ke-19) jauh lebih banyak lagi. Sebab, sejak Sultan Alauddin Ahmad Syah memerintah tahun 1727 hingga berakhirnya Kesultanan Aceh pada 1903 (Sultan Muhammad Daud Syah; 1894-1903), seluruh sultan yang berkuasa adalah keturunan Bugis-Makassar.

Dihadapkan pada kenyataan sejarah yang demikian, betapa banyak nilai yang bisa diserap untuk kehidupan bangsa ini pada masa sekarang dan yang akan datang. Pluralisme dan multikultutralisme bukan saja sudah menjadi suatu keniscayaan bagi bangsa ini, tetapi juga merupakan sebuah kearifan yang selayaknya terus dikembangkan.
 

Diaspora Bugis-Makassar (01): SENJA DI SOMBA OPU

Oleh Kenedi Nurhan
SORE menjelang malam pada 24 Juni 1669, Benteng Somba Opu akhirnya jatuh ke tangan VOC (baca: Kompeni-Belanda). Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape alias Sultan Hasanuddin dipaksa turun tahta. Kerajaan Gowa-Tallo runtuh. Makassar pun tidak lagi jadi kiblat perdagangan anak-anak negeri di wilayah timur Nusantara.

Bukan saja harus mengakui kekuasaan Belanda, Sultan Hasanuddin dan pengikutnya juga dipaksa mematuhi Perjanjian Bongaya (1667) serta perjanjian-perjanjian sebelumnya (1660). Gowa antara lain harus melepas kontrol atas sejumlah daerah yang justru jadi sumber ekonomi dan penopang kekuasaan mereka. Belum lagi ancaman hukuman bagi mereka yang dituding telah membunuh orang-orang Belanda semasa perang.

Butir-butir Perjanjian Bongaya yang dimaksudkan untuk mengakhiri Perang Makassar pada tahun 1667—dua tahun sebelum Hasanuddin sebagai penguasa Somba Opu benar-benar bertekuk lutut setelah dibombardir pasukan Cornelis Speelman dan sekutunya—itu sangat merugikan posisi tawar para bangsawan dan kerabat kesultanan.

Pengalihan kontrol kekuasaan Gowa kepada Kompeni telah melemahkan perekonomian kerajaan. Apalagi adanya larangan kepada rakyat Gowa agar tidak lagi terlibat dalam perdagangan dan pelayaran.

“Pembatasan-pembatasan tersebut bukan saja secara langsung menjatuhkan peran ekonomi kerajaan, juga berangsur-angsur memudarkan wibawa para bangsawan Bugis-Makassar yang terikat dalam Perjanjian Bongaya,” kata sejarawan-antropolog sosial dari Universitas Hasanuddin, Mukhlis PaEni, yang juga Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI).

Namun, akhir dari perang dahsyat dalam sejarah VOC di Nusantara tersebut justru menjadi awal dari periode sejarah yang sangat penting bagi dinamika perantauan orang-orang Bugis-Makassar di Tanah Air. Jika sebelumnya hanya masyarakat pada umumnya yang bermigrasi ke seantero Nusantara, sejak Perjanjian Bongaya pola dan pelaku migrasi justru banyak dimotori oleh kalangan bangsawan.

Dengan kata lain, sejak itu pula tonggak sejarah sosial orang-orang Bugis-Makassar mengalami semacam pergeseran. Bernard HM Vlekke (Nusantara: Sejarah Indonesia, 2006) mencatat, Perjanjian Bongaya menimbulkan perubahan revolusioner dalam organisasi politik di bagian timur Kepulauan Indonesia.

Selain mendapatkan monopoli dagang di pelabuhan Makassar, Kompeni-Belanda juga menerapkan berbagai pembatasan. Raja Gowa bahkan diminta agar menganjurkan rakyatnya menanggalkan aktivitas kemaritiman mereka, mengubah profesi dari pelaut ke petani.

Munculnya kekuasaan otoriter di kawasan ini menyebabkan sangat banyak orang Bugis-Makassar yang melarikan diri. MC Ricklefs (Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004, 2008) bahkan menggambarkan situasi kala itu lebih dramatis lagi.

Katanya, “Mereka (orang-orang Bugis-Makassar) lari menuju kapal-kapal mereka bagaikan perompak-perompak Viking yang sedang mencari kehormatan, kekayaan, dan tempat-tempat tinggal baru.”

Di tempat yang baru, orang-orang Bugis-Makassar melibatkan diri dalam berbagai peristiwa sosial-politik lokal. Sebutlah seperti di Lombok, Sumbawa, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaysia, bahkan di Siam sekalipun.

“Sampai abad XVIII, para prajurit ganas ini menjadi momok di Nusantara,” tulis sejarawan dari Australia tersebut.

Dinamika lokal

Migrasi besar-besaran orang-orang Bugis-Makassar tersebut ikut memberi warna pada dinamika lokal di berbagai daerah di Nusantara. Mukhlis PaEni mencatat, sepanjang dua abad (abad XVII-XIX) lebih mereka tidak hanya menciptakan dinamika ekonomi dan politik, tetapi juga akulturasi sosial budaya melalui perkawinan di hampir daerah di Nusantara.

Oleh karena itu, bagi Mukhlis PaEni, fenomena ini bukan sekadar migrasi biasa, melainkan apa yang ia sebut sebagai diaspora Bugis-Makassar. Para bangsawan serta raja-raja kecil yang terikat dalam persekutuan dengan Kerajaan Gowa—tentu berserta pengikutnya—tersebut mengembara dan membuka daerah baru, yang kemudian menjelma menjadi komunitas-komunitas Bugis-Makassar di berbagai daerah di Nusantara.

“Mereka meninggalkan daerahnya untuk mencari arena yang lebih leluasa untuk kehidupan yang lebih bebas, sekaligus menegakkan kewibawaan mereka di mata pengikutnya. Di tempat-tempat yang baru mereka membaur ke dalam dinamika sosial politik lokal yang berlangsung melalui kerja sama saling menguntungkan,” tutur Mukhlis.

Keterlibatan orang-orang Bugis-Makassar dalam dinamika lokal di berbagai tempat di Nusantara masih bisa dilacak hingga sekarang. Di Pulau Jawa, misalnya, baik naskah Babad Tanah Jawi, Babad Kraton Jawa, maupun Serat Trunajaya menggambarkan bagaimana prajurit-prajurit dari timur Nusantara ini ikut berperan membantu Trunajaya mempreteli kekuasaan Mataram yang disokong Kompeni-Belanda.

Nama Karaeng Galesong dan Daeng Naba, dua bangsawan dari Kerajaan Gowa-Tallo, jadi tokoh sentral dalam kisah perseteruan itu. Tiga puluh dua makan prajurit dari Gowa di kompleks pemakaman Mlati, Yogyakarta, adalah saksi sejarah keterlibatan orang-orang Bugis-Makassar dalam dinamika politik setempat.

Nama prajurit bugis dalam kesatuan “ketentaraan” di Kraton Yogyakarta yang ada saat ini adalah bukti lain yang tersisa dari eksistensi Bugis-Makassar di jantung kekuasaan Mataram. Bila dilacak lebih jauh, kata Mukhlis PaEni, dokter Wahidin Soedirohoesodo—pahlawan nasional, tokoh pendorong lahirnya Budi Utomo—ternyata leluhurnya pun masih keturunan Bugis-Makasar: Daeng Naba!

Di daerah-daerah lain, seperti di Kalimantan, Sumatera, dan Tanah Semenanjung, keterlibatan orang-orang Bugis-Makassar dalam dinamika lokal juga memberi warna baru. Di beberapa tempat mereka bahkan bisa masuk ke pusat kekuasaan istana, baik sebagai raja muda (dalam kasus di Kesultanan Melayu di Johor dan Riau) maupun sebagai raja atau sultan di Kesultanan Aceh, Selangor, Pahang, dan Mempawah.

Selain keterlibatan dalam dunia perdagangan hingga politik kekuasaan, “sumbangan” terbesar dari sejarah sosial orang-orang Bugis-Makassar pasca-Perjanjian Bongaya adalah lahirnya manusia baru Nusantara dari perkawinan campuran dengan dengan warga setempat. Akulturasi budaya pun terjadi.

Di sanalah semangat multikultur dan pluralitas yang menjadi kekuatan bangsa disemai dalam taman keindonesiaan kita hari ini.
 

Hang Tuah @ Daeng Merupawah - Imbasan Kembali

Pada tahun 1613, setelah Aceh dibawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda memusnahkan Batu Sawar (Kerajaan Johor Lama - lokasi di Kota Tinggi, Johor) Ramai penduduknya termasuk Sultan Alauddin Riayat shah 3, Raja Abdullah (adik Sultan Alauddin), Raja Raden dan pembesar negeri Johor-Pahang seperti Raja Husein (Iskandar Thani), Putri Kamaliah, dan Bendaharanya Tun Muhammad @ Tun Sri Lanang telah ditawan dan dipindahkan ke Aceh. Pada tahun 1615, Tun Muhammad telah diangkat menjadi Raja Samalanga oleh Sultan Iskandar Muda dan beliau telah memerintah dari tahun 1615 hingga 1659.

Tun Muhammad @ Tun Sri Lanang telah mengarang Hikayat Sulatus al-Salatin pada tahun 1612 dan pada masa kini terdapat perbagai versi hikayat ini, ada versi Winstedt, ada versi Shellabear. Ini adalah disebabkan, versi asal Sulatus al-Salatin, Naskah Raffles Malay 18 masih tersimpan di Royal Asiatic Society, London atau Sulatus al-Salatin Cod. Or. 1704 yang tersimpan di Universiti Leiden, Belanda dan kita masih belum dapat mengambilnya kembali. Adakah Hikayat Sulatus al-Salatin ini adalah kisah dongeng atau khayalan penulis? Atau hikayat ini adalah kisah sejarah sebenar yang telah berlaku dan ditulis kembali oleh Tun Muhammad?

Baiklah, persoalan diatas boleh ditangguhkan dahulu sehingga akhir tulisan aku kali ini. Apa yang aku nak disampaikan dalam tulisan pada kali ini adalah berkaitan Laksamana Hang Tuah yang banyak dikesahkan didalam Hikayat atau buku tersebut. Terdapat juga kitab atau Hikayat Hang Tuah yang lebih menjurus kepada kesah beliau didalamnya, namun terdapat beberapa percanggahan yang ketara antara kedua dua hikayat ini. Walaubagaimanapun, tulisan ini adalah hanya berdasarkan kepada hikayat karangan Tun Muhammad sahaja.

Dari Hikayat Sulatus al -salatin, berikut adalah ringkasan berkaitan Hang Tuah;

1. Nama Sebenar Hang Tuah adalah Daeng Merupawah, anak kepada Raja Bajung (Bajong atau Bajo?). Hang Tuah berasal dari Bajung, sebuah daerah di Makassar.

2. Seri Bija Pikrama dan Tun Sura Diraja, dari Melaka telah datang ke Makassar dan berjumpa dengan Raja Goa atau Gowa. Semasa di Gowa, Raja Gowa telah bertanya pada Seri Bija Pikrama, apakah kegemaran Sultan Mansur Syah. Seri Bija Pikrama menyatakan bahawa Sultan Mansur gemar mengumpul anak anak muda yang memenuhi syarat syarat tertentu untuk dijadikan pahlawan. Mendengarkan hal itu, Raja Gowa telah menyuruh orang suruhanya mencari anak muda seperti yang dikehendaki dan menepati syarat syarat yang telah ditetapkan untuk dibawa dan dijadikan pahlawan Melaka. Semasa Hang Tuah dijumpai oleh pesuruh Raja Goa, Hang Tuah baru berumur 12 tahun. Walaupun baru berumur 12 tahun, beliau telah berjaya membunuh 2 orang yang mengamuk semasa di Bajung.

3. Sultan Mansur Syah, sebelum pemilihan Hang Tuah, telah ada 8 orang anak anak muda yang menepati dan memenuhi syarat syarat yang telah ditetapkan untuk dijadikan pahlawan pahlawan Melaka. Mereka adalah;
a. Hang Jebat
b. Hang Kasturi
c. Hang Lekir
d. Hang Lekiu
e. Hang Ali
f. Hang Iskandar
g. Hang Hassan
h. Hang Hussin

Ketua kepada mereka bersembilan ini adalah Tun Bija Sura (nama sebenar tidak disebut). Dicatatkan didalam Hikayat ini, Hang Tuah melebihi 8 orang yang lain didalam semua ilmu dan kepandaian. Hang Tuah telah diberikan oleh Sultan Melaka sebilah keris Terupa Melaka semasa sampai di Melaka dan semasa diMelaka beliau telah banyak berguru kepada hulubalang hulubalang Melaka.

5. Hang Tuah berkahwin dan mempunyai 2 orang isteri seperti berikut;

1. Isteri pertama (Nama tidak disebut) - saudara kepada Seri Bija Diraja Dato Bongkok.

Anak dari isteri pertama

1. Tun Sirah (perempuan) kahwin dengan Temenggung Khoja Hassan
Cucu dari isteri pertama
1. Tun Abdullah (Lelaki)
2. Tun Biajid (Lelaki)
3. Tun Daerah (Perempuan) - Berkahwin dengan Sultan Mahmud Syah
Cicit dari isteri pertama
Raja Dewi Sultan Mahmud Syah


2. Isteri Kedua (Nama tidak disebut) - Dari keluarga Bendahara Paduka Raja

Anak anak dari isteri Kedua

1. Sang Guna (Lelaki)
2. Tun Emas Jiwa (Perempuan) - Berkahwin dengan Hang Nadim
Cucu dari isteri kedua
1. Tun Mat Ali Hang Nadim
Cicit dari isteri kedua
1. Tun Hamzah Tun Mat Ali
Piut dari isteri kedua
1. Tun Ali Tun Hamzah - Tun Ali bergelar Seri Petam

6. Hang Tuah mendapat gelaran Laksamana Hang Tuah setelah pembunuhan Hang Jebat

7. Hang Tuah meninggal dunia setelah sekembalinya Hang Nadim dari perjalanan ke Benua Keling. Hang Tuah telah dimakamkan di Tanjung Keling, diMelaka. Pengganti jawatan Laksamana adalah menantunya sendiri, Temenggung Khoja Hassan.

Selain daripada perkara perkara diatas seperti hal meminang Puteri Gunung Ledang, pembunuhan Jebat dan sebagainya aku tidak tuliskan disini. Itu tuan dan puan boleh baca sendiri dalam buku dan internet. Apa yang nampak jelas adalah memang ada perbezaan yang nyata mengenai Hang Tuah didalam Hikayat Sulatus as-Salatin dan Hikayat Hang Tuah seperti asal usul Hang Tuah, kematiannya dan cerita cerita lain dan watak watak didalamnya.

Persoalanya adalah, adakah Hikayat Sulatus as-salatin yang dikarang oleh Tun Muhammad atau Tun Seri Lanang ini mengenai Laksamana Hang Tuah adalah cerita dongeng dan khayalan? Didalam buku: "Amando cortesao - the suma oriental of Tome' Pires", Pires adalah seorang Portugis yang berada di Melaka semasa Portugal menyerang Melaka pada 1511, beliau menyatakan "Kalaulah Hang Tuah masih ada di Melaka, Portugis tidak akan berani menyerang". Manakala didalam buku "A. Kobata and M. Matsuda - Ryukyu relations with Korea and south sea countries" dimana A Kobata telah merujuk kepada kepada catatan bernama "Rekidai Hoan" yang telah ditulis dan disusun pada 1697 oleh Raja kepulauan Ryukyus yang mana didalam catatan tersebut ada menyebut mengenai keberanian HangTuah yang telah masuk kepelabuhan di Kemboja semasa perang saudara sedang berlangsung diketika itu untuk mengambil air minuman dengan menggunakan perahu layar kecilnya.

Aku rasa 2 catatan diatas oleh orang luar, dari negara yang berbeza sudah cukup untuk mengesahkan kewujudan Hang Tuah dan lagendanya itu. Ini juga secara tidak langsung mengesahkan juga bahawa Tun Muhammad atau Tun Seri Lanang bukanlah seorang penulis cerita cerita dongeng atau khayalan.

Gayong terus ikrar memupuk penyatuan Melayu

Oleh Azrul Affandi Sobry
 
Persatuan seni silat mempunyai hubungan kuat dengan perjuangan UMNO menuntut kemerdekaan

"BAHAWASANYA, aku taat setia menjadi murid Silat Seni Gayong dan menjadi ahli Gayong. Aku mengaku taat setia kepada Allah. Aku mengaku taat setia kepada Baginda Rasulullah. Aku mengaku taat setia kepada guruku. Aku mengaku taat setia kepada ibu bapaku. Aku mengaku taat setia kepada saudara seGayong denganku."
 
Itulah sebahagian ikrar atau baiah yang dilafazkan sesiapa saja yang mahu menjadi ahli Silat Gayong. Ia menjadi satu adat utama ketika upacara mandi tapak (mandi adat sebagai ahli baru) sebagai tanda bersedia taat setia kepada bukan saja agama, malah guru dan tak lupa bangsa Melayu sendiri.

Sumpah ikrar itu bukan cakap kosong. Bukan seperti janji si kekasih kepada pasangannya yang disaksikan bulan dan bintang. Sumpah setia itu dilafaz sepenuh hati di hadapan kitab suci al-Quran sebagai bukti ia tidak boleh dipermain-mainkan. Ia sekali gus seperti satu amanah yang perlu dipegang sampai mati.

Begitu kuat sekali amanah yang perlu dipikul semua anak Gayong dan ia menjadi satu kunci utama yang membolehkan silat diangkat sebagai antara cara memupuk penyatuan orang Melayu, tambahan pula syarat utama untuk menjadi ahli Gayong ialah beragama Islam.

Tidak cukup dengan itu, Gayong sebenarnya mempunyai hubungan yang amat kuat dengan perjuangan orang Melayu menuntut kemerdekaan, selain terus bertahan menjadi antara pertubuhan silat utama yang menaungi badan pendiri dalam Persekutuan Silat Kebangsaan (Pesaka) di bawah nama Pertubuhan Silat Seni Gayong Malaysia (PSSGM).

Semua bermula dengan kemasukan tujuh pahlawan terbilang berketurunan Raja Bugis yang belayar ke Tanah Melayu untuk menabur bakti dan membela kebenaran melalui ilmu kependekaran masing-masing. Mereka ialah Daeng Merewah, Daeng Telani, Daeng Kuning, Daeng Celak, Daeng Perani, Daeng Mempawah dan Daeng Jalak.

Dikatakan, Daeng Kuning (Panglima Hitam) mendarat di Air Kuning, Taiping seterusnya berkampung di situ. Daripada beliaulah bercambah keturunan yang diwarisi pengasas Gayong iaitu Allahyarham Datuk Meor Abdul Rahman Daeng Uda Mohd Hashim. Beliau mempelajari ilmu Gayong daripada datuknya, Syed Zainal Abidin Al-Attas sejak usianya 12 tahun.

Kehebatan beliau sudah diakui sejak berusia 19 tahun kerana pada ketika itu (1934), beliau sudah menerima gelaran Panglima Sendo Perak oleh Sultan Perak ketika itu, Almarhum Sultan Alang Iskandar sebelum berhijrah ke Singapura pada 1938 untuk berkhidmat sebagai jurulatih seni bela diri kepada anggota Signal Corp di Gulliman Barrack.

Meor Rahman turut diangkat menerima pingat King George pada 1947 atas jasanya melindungi penduduk Pulau Sudong dan sekitarnya daripada ancaman musuh negara. Sejak itulah beliau mula menyebarkan ilmu persilatan ke seluruh Singapura dan Tanah Melayu secara meluas.

Malah, Meor juga bertanggungjawab menubuhkan Sekolah Seni Gayong di Woodlands, Singapura pada 3 Disember 1960 sebelum mendaftarkan silat itu sebagai satu pertubuhan yang sah pada 22 Oktober 1963 dengan nombor pendaftaran 361. Ramai yang mungkin tidak tahu bahawa sebenarnya usaha penubuhan Gayong diusahakan bersama Presiden UMNO pertama, Datuk Onn Jaafar.

Hubungan erat dan usaha ditunjukkan Onn menjadi petanda jelas bahawa Gayong dan UMNO mempunyai pertalian rapat ketika itu sekali gus membuktikan bahawa melalui Gayong juga Melayu dapat bersatu di bawah satu panji pertubuhan silat, bukan sekadar mengharapkan mana-mana parti politik.

Tanggal 23 Jun 1991, Meor Rahman kembali ke rahmatullah dan ia sebenarnya bukan penamat kepada perjuangan anak Gayong dalam mengangkat seni silat itu ke satu tahap lebih baik, malah berterusan mengembangkan panjinya untuk membina perpaduan utuh dalam kalangan orang Melayu.

Yang Dipertua PSSGM, Datuk Adiwijiya Abdullah, berkata semua kepemimpinan Gayong sama ada pada peringkat pusat dan negeri sedang berusaha keras untuk menyatukan semua anak Gayong tidak kira dari cabang atau pecahan mana sekalipun untuk kembali bersama di bawah satu panji Gayong.

Baginya, perpecahan yang berlaku dalam Gayong satu ketika dulu tidak sama sekali merosakkan prinsip dan pegangan Gayong terhadap perjuangan untuk mengangkat martabat Melayu. Malah, baginya Gayong hanya ada satu. Pegangan Gayong hanya pada sumpah taat setia di depan al-Quran.

Pegangan dan istilah Gayong yang menjurus kepada lima huruf jawi iaitu Ga, Alif, Ya Waw dan Nga membawa pengertian cukup mendalam. Ga yakni Genggam, Alif (angkat), Ya (yakin), Waw (waras) dan Nga (ngeri) memberi satu isyarat jelas bahawa anak Gayong menggenggam erat kitab al-Quran, yakin dengan isi kandungannya, mengangkat martabat kitab suci itu ke satu tahap paling mulia, berfikiran waras dengan segala kejadian Tuhan dan ngeri dengan janjikan Tuhan untuk hamba-Nya yang ingkar.

“Anak Gayong tidak boleh bermain-main dengan segala janji ini kerana orang Islam tiada yang sanggup mengkhianati al-Quran. Ke mana pun dia berpijak, sampai mati dia tetap anak Gayong. Itulah kunci utama perpaduan yang terbentuk di bawah panji silat ini. Oleh kerana itulah, selamanya saya sedia berkhidmat untuk Gayong kerana amanah itu.

“Malah, kami dalam jawatankuasa pusat Gayong sudah memutuskan memilih 2010 sebagai tahun perpaduan serta bersedia membuka pintu seluasnya untuk anak Gayong dari cabang mana sekalipun menyertai kami di bawah panji ini. Saya merayu untuk itu, untuk penyatuan Melayu.

“Apa yang kita buat ini adalah sebagai langkah meneruskan hasrat serta amanah Meor Rahman. Ketika hayatnya, beliau selalu berkongsi cita-citanya untuk melihat bangsa Melayu bersatu di bawah panji Gayong. Justeru, selepas meneliti wawasan itu, kami nekad meneruskan perjuangannya yang belum selesai,” katanya dengan penuh semangat.

Paling nyata, usaha murni untuk menyatukan Melayu melalui silat adalah sangat bertepatan kerana tidak dapat dinafikan jika disebut silat, ia tidak dapat tidak pasti dikaitkan dengan orang Melayu. Tidak ada rasanya landasan lain yang boleh meletakkan orang Melayu di bawah satu bumbung atau semeja.

Jika mahu mengharapkan politik, ia sebenarnya semakin menjauhkan orang Melayu kerana terlalu banyak perbezaan pendapat. Namun, melalui silat, sesiapa saja dari parti mana sekalipun masih boleh duduk semeja dan bercakap dalam nada sama.

Malah, usaha penyatuan Melayu di bawah panji Gayong semakin membuahkan hasilnya kerana sehingga kini, hasil usaha tanpa henti, selain mengetepikan kepentingan peribadi, ahli PSSGM sudah mencecah lebih 50,000 orang.

“Sebahagian daripada sajak yang pernah dilontarkan Meor Rahman jelas menceritakan kekuatan Gayong dalam menyatukan Melayu. Rangkap sajaknya berbunyi – Gayong bergayut kata bersahut, kera lotong makan bersama, kalau Gayong sudah menyahut, gunung yang tinggi akan kita paras sama!”

Adiwijaya juga menyatakan kerisauan melihat usaha yang digerakkan orang tertentu untuk menjajah semangat orang Melayu melalui pencabulan keaslian seni silat. Kewujudan silat olahraga yang kini dipertandingkan pada peringkat antarabangsa jelas membunuh elemen asal silat. Semua itu dilakukan kerana berasakan seni silat mempunyai pengaruh kuat untuk menyatukan orang Melayu.

Justeru pengiktirafan yang bakal diberikan PSSGM kepada Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Razak untuk diangkat sebagai Imam Khalifah Agung pertubuhan itu dengan penganugerahan sandang kehormat Seri Mahkota Agung Bintang Pelangi pada 2 Oktober ini dilihat sebagai satu komitmen mereka ke arah membentuk perpaduan dengan sokongan pemimpin nombor satu negara itu.

Lebih berharga, penganugerahan itu dibuat selepas sejak sekian lama pertubuhan itu tidak mempunyai Imam Khalifah Agung selepas penyandang terakhirnya Tun Abdul Razak Hussein kembali ke rahmatullah.

Kini, anak beliau meneruskan semangat itu atas kapasiti utama sebagai salah seorang pemimpin berdarah kacukan Bugis dan menurut Adiwijaya, memang salah satu syarat memilih Imam Khalifah Agung ialah berdarah Bugis yang kebetulan ada pada Razak dan Najib.

Pada majlis sama, seorang anak jati Gayong yang pernah dimandikan Meor Rahman ketika usianya baru tujuh tahun iaitu Menteri Besar Negeri Sembilan, Datuk Seri Mohamad Hasan, turut dianugerahkan sandang Seri Mahkota Agung Relang Pelangi yang mengangkatnya sebagai Timbalan Imam Khalifah Agung.

Membelek amanat terakhir dalam sajak Meor Rahman membuat hati tersentuh seketika - “Esok... Anakku! Dua sinar mata ini akan terus terbuka luas dan tingkah anak-anakku nun di celah-celah kesinambungan Air Kuning, jangan sampai air mataku mengalir lesu. Lambat laun kita akan bertemu, amanat guru tidak dijaga.”

Ia suara hati penuh mendalam, penuh sayu dan sarat dengan kesyahduan lantaran melihat di depan matanya Gayong pernah retak satu ketika dulu dan kini, dengan usaha keras PSSGM, ia seperti mencambahkan secebis harapan untuk melihat Gayong bersatu di bawah panji yang satu. Berdirinya Gayong tidak dua, tidak tiga kerana Gayong hanya satu! 

Setahun penuh erti

Oleh Siti Nur Almizan Aripin  
Kemenangan Sultina hasil tunjuk ajar Adiguru Tenun Pahang

TEMPOH masa setahun sebenarnya sangat singkat untuk seseorang mempelajari sesuatu yang rumit, namun Sultina Ali, 38, wanita berbakat besar dari Pulau Keladi, Pekan, Pahang membuktikan kecekalan dan semangat tinggi mampu merungkai kekusutan serta kesukaran yang dihadapi.

Pada Jun 2009 menjadi detik mula untuknya mengubah diri. Tanpa asas di dalam menghasilkan seni kemahiran tangan Tenun Pahang Diraja, beliau tetap memberanikan diri untuk menghadiri kelas bersama satu-satunya Adiguru Tenun Pahang Diraja, Nor Tipah Abd Kadir, 70.

Selepas enam bulan menekuni selok-belok di dalam menghasilkan Tenun Pahang Diraja yang dipercayai mula bertapak di bumi Pahang sejak abad ke-17 masihi, Sultina akhirnya berjaya menggenggam segulung sijil bagi mengiktiraf kebolehannya.

Membanggakan, berkat ketekunan dan minatnya yang mendalam di dalam seni tenunan, Sultina akhirnya berjaya melakar sejarah di dalam kerjayanya sebagai penenun Tenun Pahang Diraja apabila dinobat sebagai pemenang kedua Pertandingan Tenun Pahang Diraja anjuran kerajaan negeri Pahang dengan kerjasama Kraftangan Malaysia (Kraftangan).

“Saya masih baru berbanding penenun yang lain, tapi saya punyai keinginan untuk belajar dan kejayaan ini saya ibaratkan sebagai hasil kerja keras guru saya iaitu Nor Tipah Abd Kadir,” katanya selepas majlis penyampaian hadiah yang disempurnakan Tengku Puan Pahang Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah di Kompleks Kraf, baru-baru ini.


Sultina menghasilkan Tenun Pahang Diraja berwarna merah bata dengan rekaan corak digelar Bugis diperbuat daripada benang sutera. Dihasilkan dengan saiz dua meter, hasil kerja tangan Sultina dianggarkan bernilai RM3,000 di pasaran.


Dia membawa pulang hadiah wang tunai bernilai RM2,000 berserta sijil penyertaan, manakala pemenang tempat pertama, Izyana Mohd Nazri yang tidak hadir memenangi wang tunai bernilai RM3,000 dan tempat ketiga, Norhidayah Mohd Sharif mendapat RM1,000.

Seramai 31 penenun menyertai pertandingan menenun selendang panjang yang dianjurkan bertujuan untuk mengetengah dan meningkatkan kemahiran penenun Pahang di samping memartabatkan identiti Tenun Pahang Diraja.

Pemenang dinilai berdasarkan kriteria ditetapkan iaitu kain tenun mesti mempunyai Jalinan Pakan dan Loseng, penenun bebas menggunakan bahan tenunan seperti benang kapas, sutera, metalik dan sebagainya, manakala kain tenun akan dinilai berdasarkan kreativiti, reka corak serta kemasan.


Sementara itu, Ketua Pengarah Kraftangan Malaysia, Mohd Kamil Mohd Ali, berkata penganjuran pertandingan adalah untuk membantu memasarkan produk tradisi dan bukti dua pihak terbabit benar-benar serius membangunkan industri tenun Pahang.


“Ia juga diadakan selaras dengan usaha untuk mengekal dan menggalakkan pembabitan penenun serta pereka di dalam menghasilkan selendang panjang daripada kain tenun Pahang.


“Pembabitan golongan muda di dalam pertandingan ini juga telah memberikan petunjuk positif ke arah pembangunan perusahaan tenun Pahang di dalam jangka masa panjang dan diharapkan ia akan terus berkembang serta tidak hilang ditelan arus zaman,” katanya ketika berucap.


Adiguru kecewa kualiti merosot


“SEMUANYA kerana teknik mengetuk yang dibuat sekarang tergesa-gesa kerana mahu cepat siap menyebabkan kualiti kain tenun tidak kemas.


“Jika dulu, kami (penenun) mengetuk kain dengan kuat dan kemas, justeru jalinan benang lebih berkualiti serta tidak mudah terlerai,” kata Adiguru Tenun Pahang, Nor Tipah Abd Kadir ,70.


Katanya lagi, sehelai tenun Pahang berkualiti secara asasnya boleh disiapkan di dalam tempoh empat hari atau seminggu berbanding sekarang, sehelai kain disiapkan hanya dalam tempoh masa dua hari.


“Petua orang dulu-dulu, jalinan benang itu jika lebih lama berada di dalam ‘daging’ maka ia akan menjadi makin padat dan tidak mudah pecah. Itu petuanya, tapi orang muda sekarang, semuanya mahu cepat siap,” katanya kesal.


Berkemahiran menghasilkan Tenun Pahang sejak berusia 13 tahun memberikan 1,001 pengalaman kepada Nor Tipah yang juga berpangkat dua pupu kepada Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun Razak.


Kemahiran nenek kepada Nor Tipah dikenali sebagai Hajah Selema yang pernah dianugerahkan sebagai Tokoh Tenun Pahang suatu masa dulu sedikit sebanyak mengalir di dalam dirinya.


Di dalam pertandingan Tenun Pahang Diraja yang berlangsung baru-baru ini menyaksikan anak perempuannya, Izyana Mohd Nazri dinobat sebagai juara.


“Kemahiran menenun adalah kemahiran turun menurun dan saya adalah generasi ke-11 daripada keturunan Keraing Haji,” katanya.


200 ahli keluarga Anok Branok Daik berhimpun



SEBAHAGIAN daripada ahli keluarga keturunan Bugis 'Anok Branok Daik' yang bermastautin dan di luar Terengganu berhimpun di Muzium Negeri Terengganu, kelmarin.



KUALA TERENGGANU 24 Sept. - Personaliti terkenal TV3 kelahiran negeri ini, Ally Iskandar Mardzi turut tidak melepaskan peluang memeriahkan program perhimpunan keluarga 'Anok Branok Daik' sempena sambutan Aidilfitri di Muzium Negeri di sini semalam.

Lebih 200 ahli keluarga itu daripada susur galur keturunan Bugis berhimpun di situ sepanjang empat jam program itu berlangsung bermula pukul 2 petang.

Pengerusi Anok Branok Daik, Mardzi Mohd. Ali berkata, program itu merupakan kali kedua diadakan selepas tahun 2007 dan ia berjaya mengeratkan hubungan silaturahim sesama mereka.

Katanya, menerusi perhimpunan itu, kesemua yang hadir turut berkesempatan menjalin semula hubungan kekeluargaan walaupun kebanyakan ahli keluarga 'Anok Branok Daik' kini bermastautin di luar Terengganu.

"Pertemuan kali ini lebih mendapat sambutan menggalakkan berbanding program serupa pada dua tahun lalu," katanya yang juga bapa kepada Ally Iskandar ketika ditemui pada majlis itu.

Menurutnya, beliau yakin keluarga itu mempunyai keahlian yang lebih ramai dan usaha untuk menjejaki mereka masih dilakukan.

Mardzi menambah, keturunan keluarga itu berasal dari Kepulauan Ringga, salah sebuah pulau yang terbesar di Kepulauan Riau, Indonesia.


Raja Ali Haji pujangga Melayu termasyhur

MENGENAI Raja Ali Haji sudah cukup banyak ditulis. Tulisan ulama ini yang dimuatkan dalam artikel ini merupakan petikan dan penambahan saja dari buku penulis yang berjudul Perkembangan Fiqh dan Tokoh-Tokohnya di Asia Tenggara, jilid 1. Penulis memulakan kisah ulama ini dengan kalimat berikut, “Ulama yang bermazhab Syafie (pengikut akidah Ahli Sunah wal Jamaah Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan pengamal Tarekat Naqsyabandiyah dalam sufiah, yang berasal dari Riau ini) lain pula kepopularannya. 

“Beliau lebih banyak mengarang di bidang ilmiah-ilmiah lain dari pengetahuan fiqh dan hukum-hukum keislaman, sehingga namanya sangat terkenal dalam bidang bahasa dan kesusasteraan Indonesia dan Malaysia”. Karangan mengenai bahasa Melayu menyerlahkan namanya menjadi tersohor bagi dalam masyarakat Melayu sendiri mahu pun pengkaji-pengkaji bahasa dari kalangan kaum penjajah terutama sarjana yang berasal dari Belanda. 

Nama lengkap beliau ialah Tengku Haji Ali al-Haj bin Tengku Haji Ahmad bin Raja Haji Asy-Syahidu fi Sabillah bin Upu Daeng Celak, yang lebih masyhur dengan sebutan Raja Ali Haji saja.

Beliau dilahirkan di Pulau Penyengat Indera Sakti yang ketika itu menjadi pusat pemerintahan Riau-Lingga-Johor dan Pahang. Raja Ali Haji dilahirkan oleh ibunya, Hamidah binti Panglima Malik, Selangor, tahun lahirnya tercatat pada 1809. Raja Ali Haji mempunyai beberapa orang saudara, semuanya ada 16 orang. Mereka ialah: 

* Raja Abdul Majid * Raja Abdul Wadud
* Raja Haji Umar/Tengku Endut * Raja Haji Ali
* Raja Abdullah (Amir Karimun) * Raja Usman
* Raja Abdul Hamid * Raja Muhammad Sa’id
* Raja Kecik * Raja Shaliha
* Raja Fatimah * Raja Aisyah
* Raja Shafiyah * Raja Maimunah
* Raja Hawi * Raja Maryam

Beberapa orang adik-beradik Raja Ali Haji yang tersebut di atas, mahupun keturunan-keturunan mereka yang berperanan dalam masyarakat Melayu akan diceritakan lebih lanjut dalam siri-siri yang berikutnya.

Sambungan petikan daripada karangan penulis sendiri dalam buku, Perkembangan Fiqh dan Tokoh-Tokohnya di Asia Tenggara, jilid 1, “Kira-kira tahun 1822 sewaktu ia masih kecil, ia pernah dibawa oleh orang tuanya ke Betawi/Jakarta. Ketika itu orang tuanya, Raja Haji Ahmad, menjadi utusan Riau untuk menjumpai Gabenor Jeneral Baron van der Capellen. Berulang-ulang kali Raja Haji Ahmad menjadi utusan (kerajaan Riau) ke Jawa itu, waktu yang berguna itu telah dimanfaatkan oleh puteranya Raja Ali untuk menemui banyak ulama, untuk memperdalam pengetahuan Islamnya, terutama ilmu fiqh. (Di antara ulama Betawi yang sering dikunjunginya ialah Saiyid Abdur Rahman al-Mashri. Kepada ulama ini Raja Ali Haji sempat belajar Ilmu Falak)”. 

Selain dapat memperdalam ilmu keislaman, Raja Ali Haji juga banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan hasil pergaulan dengan sarjana-sarjana kebudayaan Belanda seperti T. Roode dan Van Der Waal yang kemudian menjadi sahabatnya. Kira-kira tahun 1827/1243H Raja Ahmad pergi ke Mekah al-Musyarrafah, puteranya Raja Ali Haji ikut serta.

Raja Ahmad dan Raja Ali Hajilah di antara anak Raja Riau yang pertama menunaikan ibadah haji itu. Raja Ali Haji tinggal dan belajar di Mekah untuk suatu masa yang agak lama. Semasa di Mekah Raja Ali Haji sempat bergaul dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Dalam beberapa bidang keislaman dan ilmu bahasa Arab Raja Ali Haji sempat belajar dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani yang ketika itu adalah sebagai seorang besar (sebagai Ketua Syeikh Haji dan sangat berpengaruh) di kalangan masyarakat Melayu di Mekah. 

Ia bersahabat dengan salah seorang anak Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari iaitu Syeikh Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Barangkali ketika itu pulalah Raja Ali Haji sempat mempelawa ulama yang berasal dari Banjar itu supaya bersedia pergi ke Riau, menurut rencananya jika mendapat persetujuan akan dijadikan Mufti di kerajaan Riau. Dalam perjalanannya ke Mekah itu, Raja Haji Ahmad dan puteranya Raja Ali Haji pula mengambil kesempatan berkunjung ke Kaherah (Mesir), setelah itu kembali ke negerinya Pulau Penyengat, Riau.

Di kerajaan Riau-Johor pada zaman dulu memang ramai ulama pendatang di antaranya Habib Syaikh keturuan as-Saqaf, Syeikh Ahmad Jabarti, Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minkabawi, Syeikh Abdul Ghafur bin Abbas al-Manduri dan ramai lagi. Apatah lagi saudara sepupu Raja Ali Haji yang bernama Raja Ali bin Raja Ja’far menjadi Yamtuan Muda Kerajaan Riau VIII (tahun 1845-1857) menggantikan saudaranya Raja Abdur Rahman bin Raja Haji Yamtuan Muda Kerajaan Riau VII (taun 1833-1845). Apabila Raja Ali Haji pulang dari Mekah beliau disuruh oleh saudara sepupunya itu mengajar agama Islam, (Raja Ali bin Raja Ja’far juga ikut belajar kepada Raja Ali Haji).

Agak lama juga Raja Ali Haji terjun ke dunia pendidikan. Dikatakan bahawa beliau telah mengajar Ilmu Nahu, Ilmu Sharaf, Ilmu Usuluddin, Ilmu Fiqh, Ilmu Tasauf dan lain-lain. Raja Ali Haji memang berkemampuan tentang berbagai-bagai ilmu pengetahuan Islam, bahkan beliau memang seorang ulama besar pada zamannya. 

Ramai murid Raja Ali Haji yang menjadi tokoh terkemuka sesudahnya, di antaranya Raja Haji Abdullah yang kemudian menjadi Yamtuan Muda Riau IX, tahun 1857-1858, Saiyid Syaikh bin Ahmad al-Hadi. 

Dalam ilmu syariat, Raja Ali Haji berpegang teguh dengan Mazhab Syafie, dalam iktikad berpegang akan faham Syeikh Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi, sedang dalam amalan tasauf beliau adalah seorang penganut Tarekat Naqsyabandiyah dan mengamalkan Selawat Dalail al-Khairat yang dibangsakan kepada Saiyid Sulaiman al-Jazuli, yang diamalkan secara beruntun sejak datuk-datuknya terutama Raja Haji as-Syahidu fi Sabilillah yang ketika akan meninggalnya masih tetap memegang kitab selawat tersebut di tangannya, sementara pedang terhunus di tangannya yang satu lagi.

Sambungan petikan Perkembangan Fiqh dan Tokoh-Tokohnya di Asia Tenggara, jilid 1, “Nama kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang bertambah masyhur dengan kemunculan Raja Ali Haji dengan pelbagai karangannya yang bercorak sejarah yang banyak dibicarakan oleh ahli bahasa dan sastera di Nusantara (Indonesia dan Malaysia), bahkan menjadi perhatian yang serius oleh orientalis Barat”. 

Riau dikatakan sebagai pusat kebudayaan Melayu dan pusat perkembangan ilmu pengetahuan keislaman yang tiada tolok bandingnya di kala itu. Raja Ali Haji sebagai tokoh sejarah, ahli bahasa/sastera Melayu dan yang terkenal dengan “Gurindam Dua Belasnya” banyak dibicarakan orang. Akan tetapi belum begitu popular bahawa beliau adalah seorang ulama besar Islam (dunia Melayu). Tentang penulisan Ilmu Fiqh, Tauhid dan Tasauf Raja Ali Haji bukanlah seorang penulis yang produktif seperti gurunya Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Walau bagaimanapun diakui ada karya Raja Ali Haji ke arah itu di antaranya Jauharatul Maknunah. 

Syair Sultan Abdul Muluk pernah diterbitkan oleh Roorda van Eysinga dalam Tijdshrift voor Nederlandsch-India, IX, 4, 1847M, dan diterbitkan di Batavia 1958 M.

Sambungan petikan Perkembangan Fiqh dan Tokoh-Tokohnya di Asia Tenggara, jilid 1, “Tentang karya-karya Raja Ali Haji yang tersebut di atas, penjelasan satu persatu adalah sebagai yang berikut, Gurindam Dua Belas banyak dibicarakan dalam pelajaran sastera. Drs. Zuber Usman dalam bukunya, Kesusasteraan Lama Indonesia, beliau menyalin beberapa untaian gurindam itu. Di antara gurindam fasal kesebelasnya. 

Dinamakan Gurindam Dua Belas ialah kerana terdiri dari dua belas fasal. Yang terkandung dalam Gurindam Dua Belas ialah perkara yang menyangkut ibadat individu, kewajipan-kewajipan para raja dan sifat-sifat masyarakat, kewajipan orang tua kepada anak dan sebaliknya kewajipan anak kepada orang tua, dan lain-lain.

Sutan Takdir Ali Syahbana memuat Gurindam Dua Belas dalam bukunya Puisi Lama, tahun 1969 diterbitkan lagi dengan suatu pembicaraan Drs.Shaleh Saidi tentang gurindam itu. Penerbitannya diusahakan oleh Direktorat Bahasa dan Kesusasteraan, Singaraja. Gurindam Dua Belas pernah dikumpulkan oleh Elisa Netscher dan diajarkan dalam Tijdshrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde No. 2, tahun 1853 dengan judul De Twaalf Spreukgedichten.

Bustanul Katibin, ditulis tahun 1267H/1850M, diterbitkan dengan huruf batu (litografi) di Pulau Penyengat Riau. Kandungannya membicarakan penulisan bahasa Melayu, tatabahasa Melayu yang disesuaikan dengan tatabahasa (nahu dan sharaf) dalam bahasa Arab. Bustanul Katibin terdiri dari 31 pasal, tebalnya hanya 70 halaman.

Kitab Pengetahuan Bahasa, ditulis tahun 1275 H/1858M, menggunakan nama pengarang pada halaman depan cetakan Al-‘Alim Al-Fadhil Al-Marhum Raja Ali Haji ibni Al-Marhum Raja Haji Ahmad ibni Al-Marhum Yang Di Pertuan Muda Raja Haji Asy-Syahid fi Sabilillah Ta’ala ... , terbitan pertama, penggal yang pertama Matba’ah Al-Ahmadiah, 82, Jalan Sultan, Singapura, 10 Rejab 1348 H/11 Disember 1929. 

Terbitan kedua telah penulis atau Khazanah Fathaniyah, Kuala Lumpur, usahakan tahun 1417 H/1996 dengan lampiran Sejarah Ringkas Matba’ah Al-Ahmadiah Singapura dan Raja Haji Umar bin Raja Hasan (Cucu Raja Ali Haji)]. Kitab tersebut adalah kamus bahasa Melayu yang lebih menekankan loghat Melayu Johor, Pahang dan Riau-Lingga. Cetakan pertama setebal 466 halaman, cetakan kedua 483 halaman dengan pendahuluan setebal 32 halaman.

Kitab ini tidak sempat selesai, hanya sampai pada huruf (Ca) saja. 

Tsamratul Muhimmah, judul lengkap Tsamratul Muhimmah Dhiyafatu lil Umara’ wal Kubara’ li Ahlil Mahkamah. Diselesaikan pada hari Selasa, pukul 2, pada 10 Syaaban 1275H/1858M. Tempat diterbitkan ada dinyatakan pada halaman depan Office Cap Gubernement Lingga, 1304 H. Di halaman belakang dinyatakan ‘Tercap di Lingga An Street Printing Office, Muharam 1304H/1886M. Diterbitkan lagi oleh Khazanah Fathaniyah, Kuala Lumpur, 1420H/1999M (cetakan yang kedua), nombor siri 28 dengan ukuran 20.4 x 13.5 cm, setebal 79 halaman. Kitab tersebut adalah pedoman untuk raja-raja, hakim, menteri serta pembesar-pembesar lain dalam sesuatu kerajaan atau pemerintahan.

Salasilah Melayu dan Bugis (No. 6), ditulis pada 15 Rabiulakhir 1282H/1865M. Naskhah asalnya adalah dari Saiyid Syarif Abdur Rahman bin Saiyid Qasim, Sultan Pontianak, bin Syarif Abdur Rahman al-Qadri, bahawa naskhah itu telah ditulis oleh Haji Abdullah anak Khairuddin peranakan Juanah pada tahun 1282H atau 1865M. 

Diterbitkan buat pertama kalinya (Matba’ah Al-Imam), Singapura, tahun 1329H/1911 M, kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggeris tahun 1926 dan dimuat dalam JMBRAS. Pada 1956 diterbitkan di Johor atas perintah Mayor Jenderal Sir Sultan Ibrahim, Sultan Johor ketika itu, dicetak di Pejabat Cetak Kerajaan Johor oleh Markum bin Haji Muhammad Said.

Kitab Salasilah Melayu dan Bugis yang ditulis dengan huruf Melayu/Jawi atau huruf Arab dalam bahasa Melayu/Indonesia itu pernah dirumi/latinkan oleh Sasterawan Negara, Arena Wati tahun 1972, diterbitkan oleh Pustaka Antara, Kuala Lumpur (Malaysia) dalam tahun 1973. 

Kandungan Salasilah Melayu dan Bugis ialah menceritakan asal usul keturunan Bugis di Luwu’ Sulawesi, kemudian kejayaan di dalam pengembaraannya di bahagian Barat Nusantara setelah menghadapi pelbagai tentangan dan peperangan yang sangat hebat dan secara berentetan. Mereka dapat berkuasa di Riau, Selangor, Mempawah, dan tempat-tempat lainnya. Salasilah Melayu dan Bugis adalah sangat penting untuk menyusun sejarah Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dan Malaysia.

Menyusul kitab Tuhfatun Nafis ditulis pada 3 Syaaban 1282H/1865M. Kitab Tuhfatun Nafis dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari Salasilah Melayu dan Bugis. Kitab Tuhfatun Nafis adalah yang paling terkenal daripada semua karangan Raja Ali Haji. Kandungannya dimulakan dengan menjelaskan sejarah Singapura, Melaka dan Johor yang kemudian dilanjutkan tentang Riau dikalahkan oleh Belanda. Secara terperinci menguraikan kejadian-kejadian bersejarah mulai tahun 1677M hingga ke tahun disusunnya kitab itu (1282H/1865M). 

Dipaparkan dengan hebat kisah datuknya Raja Haji putera Upu Daeng Celak sehingga beliau mangkat menemui syahidnya di Teluk Ketapan, Melaka. Kitab Tuhfatun Nafis pernah diterbitkan oleh R. O. Winstedt dalam tahun 1932, dimuat dalam JMBRAS, dalam tahun 1965 oleh Malaysia Publication di Singapura dengan edisi tulisan Rumi/Latin, dan Tuhfat Al-Nafis Sejarah Melayu-Islam merupakan transliterasi oleh Virginia Matheson Hooker diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka tahun 1991. 

Bagaimanapun, ada sarjana yang berpendapat kitab Tuhfatun Nafis bukan karangan Raja Ali Haji tetapi karangan ayahnya Raja Haji Ahmad yang terkenal itu.

Muqaddimah fi Intizham, judul lengkapnya ialah Muqaddimah fi Intizhamil Wazhaifil Muluki Khushusan ila Maulana wa Shahibina wa Akhina Yang Di Pertuan Muda Raja Ali al-Mudabbir lil Biladir Riyauwiyah wa Sairi Dairatihi, menurut Hasan Junus, ialah sebuah risalah tipis berisikan tiga buah wazifah untuk dijadikan pegangan oleh seorang pemegang kendali dan kemudi negeri ketika mengangkat rencana hukum sebelum menjatuhkan hukuman. 

Seterusnya Syair Hukum Nikah atau Syair Kitab an-Nikah atau Syair Suluh Pegawai. Mengenai judulnya, Abu Hassan Sham menyebut, “Nama syair ini tidak pernah tercatat sebelum ini, tetapi ini bukan bermakna syair ini tidak disedari oleh sarjana-sarjana Barat. Mereka mengetahui syair ini dengan nama yang lain iaitu Syair Hukum Nikah atau Syair Kitab an-Nikah”.

Syair Sinar Gemala Mustika Alam, syair ini pernah diterbitkan oleh Matba’ah ar-Riyauwiyah Pulau Penyengat, tahun 1311H/1893M].

Jauharatul Maknunah, dinamakan juga Siti Shiyanah Shahibul Futuwah wal Amanah ditulis dalam bentuk syair. Kandungannya mengenai pelajaran fiqh, atau pelajaran agama Islam, yang digubah dalam bentuk puisi. 

Jauharatul Maknunah diterbitkan oleh Matba’ah Al-Ahmadiah, 50 Minto Road, Singapura, pada 7 Muharam 1342H. Jauharatul Maknunah ditashih oleh Raja Haji Abdullah bin Raja Haji Hasan Riau, diterbitkan atas usaha Raja Haji Ali bin Raja Haji Muhammad Riau, Mudir Matba’ah Al-Ahmadiah yang ada hubungan keturunan kekeluargaan dekat dengan pengarangnya, Raja Ali Haji. 

KETURUNAN

Putera/puteri Raja Ali Haji ada 17 orang iaitu:

1. Raja Haji Hasan, 2. Raja Mala’, 3. Raja Abdur Rahman, 4. Raja Abdul Majid, 5. Raja Salamah, 6. Raja Kaltsum, 7. Raja Ibrahim Kerumung, 8. Raja Hamidah, 9. Raja Engku Awan ibu Raja Kaluk, 10. Raja Khadijah, 11. Raja Mai, 12. Raja Cik, 13. Raja Muhammad Daeng Menambon, 14. Raja Aminah, 15. Raja Haji Salman Engku Bih, 16. Raja Siah dan 17. Raja Engku Amdah.

Raja Haji Hasan (No. 1) memperoleh 12 orang anak yang terkenal sebagai ulama dan tokoh ialah; 1. Raja Haji Abdullah Hakim, 2. Raja Khalid Hitam, meninggal dunia di Jepun, 3. Raja Haji Abdul Muthallib, 4. Raja Mariyah, 5. Raja Manshur, 6. Raja Qamariyah, 7. Raja Haji Umar, 8. Raja Haji Andi, 9. Raja Abdur Rasyid, 10. Raja Kaltsum, 11. Raja Rahah dan 12. Raja Amimah.
Senarai karangan Raja Ali Haji yang telah diketahui adalah seperti yang berikut

* Syair Sultan ‘Abdul Muluk, hari Rabu, 8 Rejab 1262H/1846M
* Gurindam Dua Belas, tahun 1846M
* (Bustanul Katibin lis Shibyanil Muta'allim), tahun 1267 H/1850M
* Kitab Pengetahuan Bahasa, tahun 1275 H/1858M
* (Tsamaratul Muhimmah), diselesaikan hari Selasa, pukul 2, pada 10 Syaaban 1275H/1858M
* Salasilah Melayu dan Bugis, 15 Rabiulakhir 1282H/1865M
* (Tuhfatun Nafis), 3 Syaaban 1282 H/1865M
* (Muqaddimah fi Intizham)
* Syair Hukum Nikah atau Syair Kitab an-Nikah atau Syair Suluh Pegawai
* Syair Sinar Gemala Mustika Alam
* (Jauharatul Maknunah), dinamakan juga Siti Shiyanah Shahibul Futuwah wal Amanah

- Koleksi tulisan Allahyarham Wan Mohd. Shaghir Abdullah

Haji Ismail Mundu Mufti Kerajaan Kubu


SEBUAH salasilah yang saya peroleh di Pontianak, Kalimantan Barat ada menyatakan bahawa Haji Utsman (Daeng Pagalak) datang ke Pontianak bersama seorang anaknya, Nakhoda Tuzu, dari negeri Bugis. Anak Haji Utsman (Daeng Pagalak) ada enam orang. Anak yang ketiga bernama Haji Abdul Karim. Haji Abdul Karim memperoleh anak laki-laki empat orang. Anaknya yang sulung bernama Haji Ismail iaitu ulama yang diriwayatkan dalam artikel ini. 

Gelaran beliau yang selalu disebut-sebut oleh masyarakat ialah Mufti Haji Ismail Mundu atau Mufti Kubu. Anak Haji Abdul Karim bin Haji Utsman yang kedua bernama Haji Umar. Anak Haji Umar bernama Haji Abdul Hamid. Anak Haji Abdul Hamid ialah Ambok Pasir. Keturunan ini pada satu ketika dulu sangat terkenal di Singapura kerana sering menghadapi pergaduhan dengan golongan samseng Cina di Singapura. 

Haji Umar berkahwin sebanyak 12 kali. Daripada perkahwinannya dengan Halimah Ragiak, beliau memperoleh dua orang anak. Anaknya yang bernama Hajah Hafshah dikahwinkan dengan Saiyid Ali bin Saiyid Abdullah az-Zawawi. Anak Saiyid Ali bin Saiyid Abdullah az-Zawawi ialah Saiyid Yusuf az-Zawawi yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Terengganu. 

Haji Ismail bin Haji Abdul Karim mendapat pendidikan awal daripada golongan ulama Bugis yang ramai tinggal di Kalimantan Barat. Kitab yang dipelajari adalah dalam bahasa Arab dan kitab tulisan Bugis dalam bahasa Bugis. Beliau juga belajar dengan ulama bangsa Melayu yang menggunakan kata pengantar dalam bahasa Melayu. Pendidikannya yang terakhir di Mekah. Antara sahabatnya ketika belajar di Mekah termasuklah Tok Kenali. 

Baik sewaktu tinggal di Mekah mahupun setelah pulang ke dunia Melayu, Haji Ismail bin Haji Abdul Karim selalu mendekati para ulama. Apabila berdampingan dengan ulama-ulama yang setaraf dengannya, bahkan yang kurang ilmu daripadanya, beliau lebih suka mendengar apa yang dibicarakan orang. Beliau selalu mengelak daripada menonjolkan diri. Prinsipnya lebih baik diam daripada banyak bercakap menyalahkan orang. Lebih baik berzikir secara dawam (berkekalan) daripada bercakap sesuatu yang tiada bermanfaat. 

Ilmu adalah nur (cahaya) kepada Haji Ismail. Ilmu adalah suatu yang semerbak mewangi. Cahaya dan wangian pasti akan lahir jua, kedua-duanya tiada kekal dalam pertapaannya. Oleh itu Haji Ismail Mundu walaupun beliau tidak suka menonjolkan diri namun ia akan tertonjol, terangkat tinggi dengan sendirinya. Setelah beliau pulang dari Mekah, beliau dilantik menjadi Mufti di Kerajaan Kubu, iaitu sebuah kerajaan kecil dalam takluk kerajaan Pontianak, Kalimantan Barat. 

Kemasyhuran

Pada masa yang sama di Pontianak ada tiga ulama besar yang bernama Ismail. Dua orang lagi ialah Haji Ismail bin Abdul Lathif (lebih dikenali dengan sebut Haji Ismail Jabal) yang pangkatnya adalah Penasihat Agama Kerajaan Pontianak dan yang seorang lagi ialah Haji Ismail bin Abdul Majid yang berasal dari Kelantan. Haji Ismail bin Abdul Majid Kelantan kemudian dilantik sebagai Mufti Kerajaan Pontianak. Haji Ismail Kelantan adalah ulama yang termuda antara mereka. 

Selain tiga orang ulama yang tersebut, pada zaman yang sama, berdasarkan surat tarikh Pontianak, hari Khamis, 13 Februari 1936 H bersamaan 20 Zulhijjah 1354 M, tokoh-tokoh tertinggi yang menangani urusan Islam dalam kerajaan Pontianak dan kerajaan-kerajaan kecil di bawah takluknya ada yang dinamakan Seri Paduka Hakim iaitu Seri Paduka Yang Maha Mulia Duli Tuanku Sultan Saiyid asy-Syarif Muhammad al-Qadri. Di bawahnya ada Sekretaris Luar Biasa yang disandang oleh Paduka Pangeran Adi Pati Anom Seri Maharaja Syarif Utsman al-Qadri. 

Selain itu ada yang dinamakan Naibul Hakim yang disandang oleh Syarif Abdullah bin Ahmad Saqaf. Di bawahnya ada jawatan yang dinamakan Lid Tiga Orang. Ia disandang oleh Syarif Abdullah bin Ahmad Saqaf, Syarif Utsman bin Pangeran Aria dan Syeikh Muhammad bin Abdullah Habsyi. 

Terakhir sekali dinamakan Adviseur Penasihat. Yang menyandang kedudukan ini ada dua orang iaitu Saiyid Muhammad bin Shalih bin Syihab dan Haji Ismail bin Haji Abdul Lathif. Memperhatikan susunan kedudukan ini Haji Ismail bin Haji Abdul Lathif ialah sahabat terdekat Haji Ismail bin Abdul Karim, Mufti Kubu, yang bukan daripada golongan bangsa ‘Saiyid’. 

Haji Ismail bin Abdul Karim meninggal dunia pada hari Khamis, 15 Jamadilakhir 1376 H/16 Januari 1957 M. Sungguhpun beliau telah meninggal dunia pada tahun itu namun hingga tahun 1980-an nama Haji Ismail Mundu masih sering disebut-sebut oleh masyarakat Pontianak terutama orang Melayu yang bercampur darah dengan Bugis. 

Sewaktu saya merantau di Pontianak selama bertahun-tahun saya sempat bergaul dengan dua orang murid yang rapat dengannya, yang mempusakai ilmu daripada ulama besar keturunan Bugis itu. Muridnya yang pertama ialah Haji Ibrahim Bugis yang setiap hari, siang ataupun malam, didatangi oleh masyarakat termasuk pemimpin tertinggi di Pontianak pada ketika itu. Yang seorang lagi ialah seorang korporat, namanya dipopularkan dengan sebutan Haji Ahmad Tata Pantas. 

Saya cuba mengorek keunggulan dan kewibawaan peribadi ulama ini, apakah yang menyebabkan beliau menjadi ulama yang paling banyak disebut namanya, sedangkan ulama Pontianak lain setelah meninggal dunia namanya kurang dipercakapkan. Rahsia kepopularan itu sangat panjang untuk diceritakan, tiada cukup ruangan yang disediakan keperluan artikel ini. Walau bagaimanapun saya simpulkan saja bahawa Mufti Haji Ismail Mundu adalah seorang ulama yang kuat mengerjakan amalan-amalan bercorak sembahyang sunat, zikir, selawat dan pelbagai wirid. 

Golongan peringkat mana pun yang memerlukan beliau untuk menyelesaikan sesuatu masalah peribadi atau untuk kepentingan umum semuanya dilayani dengan penuh ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu. Tiada masalah yang tiada dapat diatasi, walau sebesar gunung, walau seberat apa timbangan sekalipun. Haji Ismail Mundu mengutamakan resipi unggul dan ampuh, iaitu menganjurkan seseorang yang bermasalah terlebih dulu mengucap istighfar (minta pengampunan kepada Allah) sebanyak yang mungkin atau dalam jumlah yang tertentu. 

Sesudah itu beliau menyuruh mereka beramal sendiri dengan amalan-amalan wirid yang pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad s.a.w., para sahabat, para Wali Allah dan amalan para ulama. Apabila cukup syarat mengerjakan amal dan ikhlas hati, insya-Allah doa selalu dikabulkan oleh Allah dan semua masalah yang sedang dihadapi dapat diatasi. 

Antara karya Haji Ismail bin Haji Abdul Karim yang dihasilkannya adalah:

1. Kumpulan Wirid, diselesaikan pada 1 Muharam 1349 H. Kandungannya membicarakan wirid untuk keselamatan dunia dan akhirat. Wirid keselamatan yang dibangsakan kepada duniawi adalah untuk penjagaan diri daripada pelbagai bentuk dan corak permusuhan sesama makhluk Allah. Selain itu ia juga membantu kelancaran rezeki dalam urusan penghidupan. Walau bagaimana buruk kemelesetan ekonomi, seseorang yang dibekalkan dengan wirid-wirid tertentu tiada akan berasa takut untuk berhadapan dengannya.

Naskhah

Dalam naskhah tersebut dinyatakan apabila hendak beramal terlebih dulu perlu dibaca al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Selanjutnya dibaca al-Fatihah kepada zuriat Nabi Muhammad s.a.w.. Yang disebut ialah Habib Ahmad bin Isa al-Muhajir, dan Habib Muhammad bin Ali Ba Alawi. Naskhah yang ada pada saya tidak terdapat nama percetakan, tetapi pada halaman terakhir terdapat cop mohor beliau. Sehubungan dengan risalah ini ada lagi yang dinamakan Risalah Amalan. Risalah ini masih merupakan manuskrip. Manuskrip yang asli ada dalam simpanan saya yang saya peroleh daripada murid beliau, Haji Ahmad Tata Pantas, Pontianak. 

2. Kitab Mukhtashar ‘Aqaid, diselesaikan di Teluk Pak Kedai, hari Jumaat, pukul 5 petang, 18 Rejab 1351 H. Kandungannya merupakan pelajaran ilmu akidah untuk hafalan kanak-kanak. Dicetak oleh Annashar & Co, Pontianak. 

3. Jadwal Hukmin Nikah atau Jadwal Nikah Soal-Jawab, diselesaikan hari Selasa, 15 Muharam 1355 H. Ini keterangan yang dicetak oleh Kantor Tulis dan Toko Kitab as-Saiyid Ali Al-‘Aidrus, Kramat No. 38 Batavia Centrum. Tetapi pada mukadimah cetakan Mathba’ah al-Islamiyah, Victoria Street, Singapura, Mufti Haji Ismail Mundu menulis, “Maka tatkala adalah tahun seribu tiga ratus lima puluh tujuh daripada hijrah Nabi... (1357 H/1938 M, pen:) bergeraklah hati saya dan cenderunglah fikiran saya bahawa hendak memungut akan beberapa masalah soal jawab pada bicara hukum nikah....” 

Risalah ini diberi kata pendahuluan oleh Muhammad Ahmad az-Zawawi, kata akuan oleh Mufti Kerajaan Johor ‘Alwi bin Thahir bin ‘Abdullah al-Haddad al-‘Alawi dan kata pujian oleh Ketua Kadi-Kadi Singapura, ‘Abbas bin Muhammad Thaha, Pejabat Qadhil Qudhah, Singapura, 7 Rabi’uts Tsani 1358 H. Kandungannya disebut oleh Muhammad Ahmad az-Zawawi pada kata pendahuluannya yang bertindak bagi kewarisan Mufti Haji Ismail Mundu, bahawa “diterbitkan kitab ini supaya menjadi pedoman bagi sesiapa yang hendak mengetahui hukum-hukum agama dalam perkara nikah, talak, rujuk, fasakh, edah, dan lain-lain. Sekira-kira memberi faham dan faedah soal jawab dan jadual yang tersusun dengan peraturan yang mudah dengan tuturan bahasa Melayu, supaya diketahui dengan tiada guru buat dibaca oleh penuntut penuntut ilmu dan yang sudah kahwin. Dan juga bagi mereka yang akan kahwin laki-laki dan perempuan. Dan kitab ini telah ditashhihkan dan diakui oleh Tuan Mufti Kerajaan Johor dan pujian oleh Ketua Kadi-Kadi Singapura.”

Sungguhpun Risalah Jadwal Nikah Soal-Jawab merupakan risalah yang nipis, namun terdapat juga pemikiran beliau tentang isu semasa berhubung kedudukan sosial masyarakat tentang hukum kufu. Pada zaman yang bercorak kebendaan seperti sekarang ini ramai orang membicarakan bahawa orang kaya adalah tidak kufu kahwin dengan orang miskin. 

Haji Ismail Mundu menyatakan hujah sebaliknya. Tulis beliau, “Maka nyatalah daripadanya bahawasa kaya itu tiada ia dibilangkan daripada segala perkara kufu. Oleh kerana harta itu pergi datang, tiada mengambil kemegahan dengan dia segala mereka yang mempunyai perangai dan mempunyai mata hati. Maka oleh kerana inilah sekufu laki-laki yang papa dengan perempuan yang kaya.” 

Masyarakat yang umum kebanyakannya hanya mengetahui dua jenis wali nikah, iaitu wali aqrab dan wali hakim, namun dalam risalah ini juga dibicarakan ‘wali tahkim’. Wali tahkim adalah tidak sama dengan wali hakim. Mufti Haji Ismail Mundu menyebut bahawa syarat harus bertahkim ada tiga perkara iaitu pertama, ketiadaan wali; kedua, ketiadaan hakim (maksudnya wali hakim) di negeri itu; dan ketiga, laki-laki yang dijadikan wali tahkim itu adil. 

Selanjutnya Mufti Haji Ismail Mundu menambah keterangannya bahawa “tiada wajib perempuan dan laki-laki yang berkehendak nikah itu hadir kedua-duanya di hadapan orang yang adil itu. Ini atas qaul Ibnu Hajar dalam Tuhfah....”